CILEGON, RADARBANTEN.CO.ID – Musim mudik Lebaran 2025 membawa berkah bagi para agen tiket kapal ferry di sekitar Pelabuhan Pelindo Ciwandan.
Salah satunya adalah Aida dan Opik, yang sejak dua hari terakhir mulai kebanjiran pelanggan. Mereka melayani pemudik yang kesulitan mendapatkan tiket kapal, terutama yang belum terbiasa dengan sistem pemesanan online.
Di kios kecilnya di tepi jalan menuju Pelabuhan Ciwandan di Jalan Lingkar Selatan (JLS), Aida dan Opik bekerja tanpa henti. Mereka membantu pemudik mencarikan tiket sesuai jadwal keberangkatan yang diinginkan, sekaligus menjawab berbagai pertanyaan seputar sistem pemesanan.
“Sejak pagi sudah banyak yang mampir, kebanyakan pengendara motor yang belum tahu cara beli tiket online,” ujar Aida, Rabu 26 Maret 2025.
Mereka memperkirakan lonjakan pembelian tiket akan terjadi pada H-3 hingga malam takbiran, ketika arus mudik mencapai puncaknya. Saat ini, mereka mampu menjual 15 hingga 20 tiket per hari, dan jumlahnya terus meningkat.
Aida mengaku awalnya hanya menjalankan usaha sebagai agen BRI Link, melayani transaksi keuangan. Namun, melihat peluang besar dari kebutuhan tiket kapal ferry, ia memutuskan menambah layanan pada tahun lalu.
“Awalnya hanya transaksi keuangan, tapi setelah lihat banyak pemudik yang kesulitan beli tiket, akhirnya mulai jual tiket ferry juga,” ungkapnya.
Keputusan itu terbukti tepat. Setiap musim mudik, permintaan tiket melonjak, terutama dari pemudik yang lebih nyaman membeli secara langsung dibanding menggunakan sistem online.
Dibandingkan membeli tiket sendiri secara online, harga tiket di agen sedikit lebih mahal, karena ada biaya jasa.
“Kami ambil untung sekitar Rp 10.000 sampai Rp 20.000 per tiket. Masih wajar dan pemudik juga paham, karena mereka ingin cepat dan praktis,” jelas Aida.
Namun, usaha ini tidak selalu berjalan mulus. Antrean panjang, pemudik yang terburu-buru, serta cuaca panas menjadi tantangan tersendiri.
“Kadang ada yang kesal kalau tiket yang mereka inginkan habis, atau antrean terlalu lama. Tapi kami tetap berusaha melayani sebaik mungkin,” tambah Opik.
Di tengah padatnya arus kendaraan menuju pelabuhan, Aida dan Opik terus melayani pemudik yang ingin menyeberang ke Sumatera. Bagi mereka, bisnis ini bukan hanya soal keuntungan, tetapi juga tentang membantu orang-orang agar bisa mudik dengan lebih mudah dan lancar.
“Dengan cara ini, kami juga ikut membantu mereka sampai ke kampung halaman,” tutup Aida.
Editor: Mastur Huda











