CILEGON, RADARBANTEN.CO.ID – Dunia visual kini diramaikan oleh tren viral yang menggabungkan teknologi AI dan nostalgia budaya pop Jepang: mengubah foto pribadi menjadi ilustrasi bergaya Studio Ghibli. Tren ini mendadak populer di media sosial, dengan banyak pengguna yang membagikan potret mereka yang telah disulap menjadi karakter animasi ala Spirited Away atau My Neighbor Totoro.
Namun, meski tren ini menyenangkan, ia juga menimbulkan pertanyaan besar terkait kreativitas dan etika penggunaan kecerdasan buatan. Dengan adanya platform seperti ChatGPT yang kini dapat mengolah gambar dan menghasilkan visual melalui AI generatif, pengguna hanya perlu mengunggah foto mereka dan memberi prompt seperti: “Ubah foto ini menjadi gaya Studio Ghibli dengan latar desa di musim panas.”
Hasilnya sangat memukau, dengan wajah pengguna yang terlihat seperti tokoh animasi, dikelilingi oleh pemandangan khas Jepang dengan langit biru pastel dan rumah kayu. Namun, muncul dilema penting: apakah karya ini bisa disebut orisinal, dan di mana letak peran manusia dalam proses kreatifnya?
Sementara tren ini mempercepat visualisasi ide, ia juga menimbulkan pertanyaan tentang esensi seni itu sendiri. Jika seni yang dihasilkan AI bisa dibuat dalam sekejap, apakah itu tetap disebut karya seni? Banyak seniman digital yang merasa khawatir dengan hasil instan ini, yang mengancam nilai seni yang biasanya melalui proses panjang dan penuh dedikasi.
Hal ini memicu perdebatan tentang apakah kreativitas masih bermakna jika tidak ada sentuhan manusia dalam prosesnya.
Banyak ilustrator yang mengungkapkan kekhawatiran mereka tentang tren ini. Gaya visual ala Ghibli yang dikenal memiliki estetika khas dan penuh perasaan, seharusnya lahir dari pengalaman manusia, bukan hanya dari algoritma dan data. Jika AI mulai meniru gaya tersebut tanpa izin, maka masalah hak cipta dan penghargaan terhadap seniman asli pun muncul.
Ada juga potensi komersialisasi, di mana gambar AI bergaya Ghibli bisa digunakan untuk iklan atau merchandise tanpa memberikan kredit kepada pencipta gaya aslinya, Studio Ghibli dan Hayao Miyazaki.
Meskipun tren ini terlihat menyenangkan dan tidak berbahaya, pengguna diharapkan bijak dalam menggunakannya. Hasil AI sebaiknya hanya digunakan untuk hiburan pribadi, bukan untuk tujuan komersial atau mengklaimnya sebagai karya pribadi. Apresiasi terhadap seniman asli juga sangat penting.
Tren foto Ghibli melalui AI membuka babak baru dalam seni digital yang cepat, mudah, dan memesona. Namun, bersama dengan kemudahan itu, muncul dilema tentang nilai kreativitas, peran manusia, serta etika dalam menghasilkan dan menyebarkan karya seni di era kecerdasan buatan.
Reporter : Adam Fadillah











