CILEGON, RADARBANTEN.CO.ID – Sepanjang tahun 2024 hingga awal 2025, Kota Cilegon mencatat 153 kasus kebakaran, dengan Kecamatan Cibeber menjadi wilayah dengan insiden tertinggi, yakni 44 kasus, berdasarkan data Cilegon Dalam Angka 2025 yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS).
Rentetan kasus kebakaran terus terjadi. Peristiwa terbaru menimpa sebuah warteg di kawasan Jombang pada 15 April 2025. Penyebab insiden diduga akibat korsleting listrik setelah hujan.
Heri, Komandan Peleton Istrada pada Dinas Pemadam Kebakaran Kota Cilegon, mengimbau masyarakat agar lebih waspada terutama dalam perawatan instalasi listrik selama musim penghujan.
“Saya menghimbau agar masyarakat secara berkala merawat jaringan instalasi listrik di musim penghujan, karena di musim penghujan dugaannya dari konsleting arus pendek dan sambungan kabel. Jadi setelah hujan, kebakaran,” ujarnya saat diwawancarai.
Heri juga menyebutkan bahwa penyebab dominan kebakaran sejak triwulan akhir 2024 hingga awal 2025 adalah korsleting kabel listrik dan kebocoran regulator gas 3 kilogram.
“Selebihnya itu dari kebocoran regulator gas tiga kilo. Triwulan akhir 2024 sampai sekarang kebanyakan korsleting kabel listrik,” tambahnya.
Fenomena ini menunjukkan pentingnya edukasi publik mengenai keamanan instalasi listrik dan penggunaan gas di lingkungan rumah tangga maupun usaha kecil.
Minimnya kesadaran terhadap perawatan berkala menjadi faktor utama yang memicu insiden serupa terulang.
Meski Cilegon dikenal sebagai kota industri dengan fasilitas modern, catatan kebakaran ini menyoroti kesenjangan dalam mitigasi risiko kebakaran di tingkat komunitas, terutama di daerah permukiman padat dan kawasan usaha informal.
Pemerintah Kota Cilegon diharapkan meningkatkan kampanye keselamatan rumah tangga dan kesiapsiagaan menghadapi bahaya kebakaran, terutama di musim hujan yang memicu banyak kasus korsleting.
Editor: Agus Priwandono











