LEBAK, RADARBANTEN.CO.ID – Libur akhir pekan bukan hanya soal bersantai atau rekreasi semata, tetapi juga bisa menjadi momen untuk belajar dan merenung dari jejak sejarah yang ada di sekitar kita.
Jika kamu berada di Provinsi Banten, khususnya di Rangkasbitung, ada beberapa destinasi bersejarah yang layak dikunjungi untuk mengisi waktu luang dengan cara yang lebih bermakna dan inspiratif.
Rangkasbitung, sebagai Ibukota Kabupaten Lebak, menyimpan banyak kisah penting dalam sejarah perjuangan dan masa kolonial di Indonesia.
Kota ini dulunya menjadi pusat pemerintahan kolonial Belanda di wilayah selatan Banten.
Tak heran, banyak bangunan bersejarah peninggalan masa lampau yang masih berdiri kokoh hingga kini, bahkan menjadi destinasi wisata edukatif.
Tak hanya menyuguhkan nilai edukatif, inilah ketiga tempat yang menyimpan cerita panjang tentang perjuangan, kolonialisme, dan perkembangan daerah Lebak.
1. Museum Multatuli.
Museum Multatuli menjadi ikon sejarah Rangkasbitung yang paling dikenal.
Museum ini didedikasikan untuk mengenang Eduard Douwes Dekker, penulis buku terkenal “Max Havelaar” yang menggunakan nama pena Multatuli.
Buku ini menyoroti penindasan dan ketidakadilan yang terjadi pada masa kolonial Belanda di Lebak.
Di dalam museum, pengunjung bisa menemukan berbagai artefak, dokumen sejarah, dan instalasi digital yang menyajikan narasi perjuangan rakyat serta sejarah kolonialisme di Indonesia.
Desain interiornya modern, tetapi tetap menjaga nuansa klasik yang kental dengan sejarah.
Lokasinya yang berada di pusat kota membuat museum ini mudah dijangkau.
2. Water Toren.
Water Toren atau menara air Rangkasbitung merupakan bangunan peninggalan kolonial Belanda yang di bangun pada 1931.
Fungsi utama adalah sebagai menara penampungan air untuk mendukung sistem penyediaan air bersih bagi warga Rangkasbitung pada masa itu.
Bangunan ini menjadi simbol kemajuan infrastruktur pada masa kolonial dan kini menjadi salah satu spot favorit untuk berfoto.
Arsitekturnya yang khas dan terawat membuat Water Toren menarik dikunjungi, terutama bagi pencinta fotografi dan sejarah arsitektur.
3. Rumah Dinas Bupati Lebak.
Rumah Dinas Bupati Lebak bukan hanya tempat tinggal resmi pejabat pemerintahan, tetapi juga menyimpan nilai historis yang tinggi.
Bangunan ini telah berdiri sejak masa kolonial dan menjadi saksi bisu berbagai fase penting dalam perjalanan Kabupaten Lebak.
Daya tarik rumah ini terletak pada arsitektur kolonialnya yang megah namun tetap asri dengan taman yang luas.
Pada waktu-waktu tertentu, rumah dinas ini dibuka untuk umum atau dijadikan lokasi acara kebudayaan, sehingga masyarakat bisa melihat langsung interior bangunan bersejarah ini.
Rangkasbitung bukan hanya sekadar kota kecil di Banten, melainkan pusat dari kisah panjang sejarah Indonesia yang kaya akan nilai-nilai perjuangan dan kebudayaan. Menghabiskan akhir pekan dengan mengunjungi Museum Multatuli, Water Toren, dan Rumah Dinas Bupati Lebak bisa menjadi pilihan yang tidak hanya menyenangkan, tetapi juga penuh makna.
Editor: Agus Priwandono











