LEBAK, RADARBANTEN.CO.ID- Tradisi Ngembang kembali digelar oleh masyarakat adat di Kabupaten Lebak, sebagai bentuk rasa syukur atas hasil panen raya yang melimpah tahun ini. Kegiatan berlangsung di Desa Ciuyah Kecamatan Sajira, Kabupaten Lebak, menggelar tradisi tabur bunga, Selasa 20 Mei 2025.
Tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun ini menggabungkan unsur ritual dan doa bersama warga. Tradisi ini digelar setiap usai panen raya, sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur dan rasa terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Sambil membawa hasil panen seperti buah-buahan, padi, dan hasil bumi lainnya, mereka kemudian melakukan doa bersama dan menaburkan bunga di makam leluhur mereka sebagai bentuk penghormatan dan keberkahan atau ngalap berkah.
Ketua adat masyarakat setempat Hasan Pasundan, mengatakan, tradisi ini adalah bentuk rasa syukur atas limpahan hasil bumi setelah panen raya yang dilakukan setiap satu tahun sekali.
“Ritual ini bentuk rasa syukur kami kepada Tuhan Yang Maha Esa ketika habis panen yang kedua, karena kita tanam padinya tanam padi yang umur enam bulan, padi yang tinggi. Jadi panen yang pertama kita tidak melakukan ritual ini, jadi panen kedua barulah kita melakukan acara ritual seperti ini namanya adat ngembang,” kata Hasan saat berada dalam acara, Selasa 20 Mei 2025.
Ia menuturkan, ritual tabur bunga atau ngembang ini merupakan sebuah warisan budaya turun- temurun yang sudah ada sejak dari nenek moyang mereka yang mengandung pesan moral serta nilai-nilai kearifan lokal.
“Ngembang adalah sebuah ritual tabur bunga ketika akan melakukan ritual seperti ini,” tuturnya.
Sementara itu, Hani, salah seorang warga Desa Ciuyah, mengungkapkan rasa syukur dan kegembiraannya bisa hadir dan menyaksikan langsung tradisi tabur bunga atau ngembang tersebut, bahkan bisa ikut rebutan hasil panen bersama masyarakat.
“Ini tadi saya dapet padi buat ditanam, saya bersyukur hasil panennya bagus tahun ini, alhmdulillah berkah,” terangnya.
Editor: Bayu Mulyana











