SERANG,RADARBANTEN.CO.ID—Upaya mengembangkan kawasan wisata Banten Lama terus digalakkan berbagai pihak.
Salah satunya datang dari Majelis Agung Kesultanan Banten (Maktab) yang berkomitmen menghidupkan kembali kejayaan sejarah dan spiritualitas Kesultanan Banten agar menjadi daya tarik wisata unggulan di Provinsi Banten.
Ketua Maktab, KH Sya’roni Ahmad, mengatakan, kawasan Banten Lama memiliki potensi besar sebagai destinasi wisata sejarah dan religi.
Menurutnya, keberadaan Kanjeng Sultan Maulana Hasanuddin sebagai tokoh penyebar Islam pertama di Banten harus lebih dikenalkan ke masyarakat luas dan wisatawan.
“Tujuan kami adalah membantu mensiarkan sejarah dan menarik wisatawan ke Banten Lama. Dan Disparpora adalah garda terdepan dalam menghidupkan kembali karamah Kanjeng Sultan Maulana Hasanuddin,” ujar KH Sya’roni Ahmad, usai melakukan audiensi dengan Disparpora Kota Serang, Selasa, 27 Mei 2025.
Ia mengatakan, Banten memiliki kekayaan sejarah yang luar biasa. Hal ini terbukti dari antusiasme masyarakat dalam dua tahun terakhir yang mulai kembali merayakan warisan spiritual dan budaya peninggalan Kesultanan Banten.
“Kita lihat sekarang, masyarakat bersyukur dan euforia atas jasa Kanjeng Sultan yang membawa Banten keluar dari kegelapan menuju cahaya Islam,” ungkapnya.
Maktab juga telah menyiapkan berbagai program jangka pendek dan panjang untuk menghidupkan kawasan wisata Banten Lama. Salah satunya melalui penyelenggaraan Festival Kaibon, yang akan diisi dengan berbagai pertunjukan seni dan budaya khas Banten seperti debus, panjang mulud, dan atraksi budaya lainnya.
Bahkan, ke depan, Majelis Agung Kesultanan Banten berencana mengembangkan konten edukatif dan visual berbasis sejarah.
Salah satu ide besarnya adalah menghadirkan drama atau film dokumenter yang menceritakan perjalanan dakwah dan perjuangan Kanjeng Sultan Maulana Hasanuddin dalam menyebarkan Islam di Banten.
“Ketika kami studi banding ke Turki, mereka punya studio film sejarah. Kenapa Banten tidak? Kita juga punya cerita luar biasa yang bisa divisualisasikan. Ini bisa jadi media edukasi dan promosi wisata sejarah,” katanya.
Selain itu, Maktab juga berharap pemerintah daerah, khususnya Dinas Pariwisata dan Pemuda Olahraga (Disparpora), bisa mendukung pelatihan pemandu wisata sejarah atau mutarajib.
Peran mereka penting untuk menjelaskan secara tepat kisah-kisah bersejarah yang ada di setiap sudut kawasan Banten Lama.
“Bayangkan jika setiap pengunjung yang datang bisa mendapat penjelasan langsung dari mutarajib tentang siapa yang membangun Masjid Agung, benteng, menara, atau makam. Itu akan sangat memperkaya pengalaman wisatawan,” ujarnya.
Menurutnya, inisiatif ini tidak hanya akan memperkuat narasi sejarah Banten, tetapi juga menciptakan peluang ekonomi baru bagi masyarakat sekitar, khususnya perempuan dan generasi muda yang ingin berperan dalam sektor pariwisata.
Ia juga berharap, sinergi antara masyarakat, pemerintah, dan Majelis Kesultanan Banten dapat terus ditingkatkan demi menjadikan Banten Lama sebagai pusat wisata sejarah dan religi yang hidup, menarik, dan mendunia.
“Semoga harapan yang mulia ini bisa terwujud. Banten punya potensi besar, tinggal bagaimana kita merawat dan mempromosikannya dengan cara yang tepat,” pungkasnya.
Reporter: Nahrul Muhilmi
Editor: Agung S Pambudi











