CILEGON, RADARBANTEN.CO.ID – Hubungan pertemanan menjadi kebutuhan dasar manusia sebagai makhluk sosial.
Dalam banyak hal, teman yang baik bahkan bisa lebih dekat dan setia dibandingkan saudara sendiri. Hal ini karena dalam pertemanan berlaku prinsip kesetaraan dan saling menghargai.
Imam Al-Ghazali, seorang ulama besar dalam sejarah Islam, telah merumuskan tujuh adab berteman dalam karyanya “Al-Adab fi Din” yang termuat dalam Majmu’ah Rasail al-Imam al-Ghazali.
Nilai-nilai ini tidak hanya menjadi pedoman etika individu, tetapi juga penopang kokohnya struktur sosial masyarakat.
Sebagaimana dikutip dari NU Online, ketujuh adab tersebut adalah menunjukkan rasa gembira ketika bertemu, mendahului salam, bersikap ramah dan lapang dada saat duduk bersama, melepas teman saat hendak pergi, memperhatikan pembicaraan teman tanpa memotong, menyampaikan cerita yang baik, dan memanggil teman dengan nama yang disenangi.
Pertama, menunjukkan rasa gembira ketika bertemu.
Tindakan ini menjadi isyarat bahwa seseorang merasa dihargai dan diterima.
Perjumpaan antar teman seharusnya mencerminkan kegembiraan dan sikap ramah, bukan sebaliknya. Hal ini secara psikologis membangun kenyamanan dan mempererat ikatan sosial.
Kedua, mendahului mengucapkan salam.
Dalam ajaran Islam, memberi salam lebih dahulu adalah bentuk keutamaan.
Ini menunjukkan bahwa teman tidak merasa lebih tinggi dan siap untuk memulai interaksi dengan semangat kesetaraan dan kedamaian.
Salam menjadi pintu pembuka bagi komunikasi yang santun dan bernilai ibadah.
Ketiga, bersikap ramah dan lapang dada saat duduk bersama.
Dalam pertemuan informal, keramahan merupakan syarat penting terciptanya keakraban.
Sikap menerima teman sebagaimana adanya, tidak cepat tersinggung, dan mudah memaafkan menjadi kunci utama hubungan yang langgeng.
Keempat, ikut melepas teman saat ia hendak pergi.
Tindakan sederhana ini mencerminkan perhatian dan penghargaan.
Dalam tradisi sosial masyarakat Nusantara, mengantar tamu hingga ke pintu rumah merupakan cermin akhlak mulia.
Hal ini juga menggambarkan bahwa teman bukan hanya sebatas rekan bicara, tapi bagian penting dari kehidupan sosial.
Kelima, memperhatikan ketika teman berbicara dan tidak memotong pembicaraan.
Sikap ini menandakan penghormatan terhadap pendapat orang lain.
Teman sejati tidak akan menyela atau mendebat hanya untuk menunjukkan siapa yang lebih unggul.
Etika mendengar dengan baik menciptakan suasana diskusi yang sehat dan produktif.
Keenam, menceritakan hal-hal yang baik.
Dalam era digital, di mana informasi negatif tersebar cepat, menyampaikan cerita positif menjadi tindakan berani.
Teman sejati akan menjaga lisan dan menyampaikan hal-hal yang menyenangkan, membangun semangat, dan menjauhkan dari rasa sakit hati atau malu.
Ketujuh, tidak memotong pembicaraan dan memanggil dengan nama yang disenangi.
Menghormati identitas teman melalui panggilan yang disukai menunjukkan bahwa seseorang memperhatikan perasaan orang lain.
Memanggil dengan sebutan yang tidak disukai bisa merusak hubungan, meskipun dimaksudkan sebagai candaan.
Ketujuh adab ini tidak hanya berlaku dalam lingkup pertemanan biasa, tetapi juga sangat relevan diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat, di tempat kerja, bahkan dalam lingkungan keluarga.
Editor: Agus Priwandono











