LEBAK, RADARBANTEN.CO.ID- Ratusan warga Kabupaten Lebak mengadu nasib sebagai Pekerja Migran Indonesia (PMI) di luar negeri.
Mereka rela meninggalkan keluarga untuk bekerja di luar negeri agar mendapat penghasilan dan bisa hidup layak.
Faktor ekonomi, tergiur gaji yang lebih besar, dan kalah bersaing mendapat pekerjaan di negeri sendiri, menjadi beberapa faktor para pahlawan devisa negara ini bekerja di negeri orang.
Tahun 2024 lalu tercatat 227 warga Lebak menjadi PMI dan tahun 2025 (Januari-Maret), 92 orang juga berangkat menjadi PMI.
Negara Arab Saudi menjadi tujuan favorit PMI. Selain Arab Saudi, Taiwan dan Malaysia juga menjadi incaran para pekerja asal Lebak.
“Ya, faktor ekonomi yang menjadi permasalahan mereka memutuskan jadi PMI. Selain itu, di luar negeri gajinya besar. Sementara di Lebak gaji kecil jadi pengen ada perubahan ekonomi,” kata Pelaksana tugas (Plt) Kepala Disnaker Lebak Rully Chaeruliyanto, Kamis 26 Juni 2025.
Selain itu, mereka juga melihat kesuksesan teman atau keluarga mereka yang telah terlebih dahulu menjadi PMI. Sehingga, mereka tergiur menjadi PMI, kendati banyak korban kasus kekerasan PMI di luar negeri.
“Memang tidak sedikit para pekerja migran yang sukses merubah ekononi keluarga menjadi mapan. Karena itu mereka tertarik,” ujarnya.
Karena itu, Disnaker Lebak terus menyosialisasikan kepada warga agar menjadi PMI legal alias resmi agar tidak menjadi korban tindak pidana perdagangan orang (TPPO), kekerasan, atau eksploitasi. “Selain itu, sebelum berangkat mereka juga mesti memiliki keterampilan yang memadai,” katanya.
Dia mengatakan, mayoritas PMI tersebut bekerja di sektor domestik dan rumah tangga dengan latar belakang pendidikan SD, SMP, dan SMA.
“Tahun lalu paling banyak warga yang berangkat menjadi PMI berasal dari Kecamatan Cijaku, Cirinten dan Cileles,” tukasnya.
Editor: Mastur Huda











