Setiap tahun, tanggal 1 Juni diperingati sebagai Hari Lahir Pancasila. Selalu meriah. Upacara digelar. Seminar diselenggarakan. Diskusi kebangsaan diadakan. Spanduk dan baliho dipasang. Kutipan para pendiri bangsa kembali dibacakan. Media sosial dipenuhi ucapan selamat Hari Lahir Pancasila.
Gemanya terasa di mana-mana. Baik di dalam ruangan maupun di area terbuka. Tapi ada satu pertanyaan yang menurut saya layak diajukan. Apakah gema itu membuat kita semakin dekat dengan nilai-nilai Pancasila? Atau jangan-jangan hanya menjadi seremoni yang berulang dari tahun ke tahun?
Sebab pada saat yang sama, kita masih menyaksikan orang saling menghina dengan mudah. Saling mempermalukan tanpa rasa bersalah. Saling menghakimi tanpa proses. Saling membenci karena perbedaan pilihan. Saling mencari kesalahan. Saling membuka aib. Saling merasa paling benar.
Ironisnya, semua itu sering dilakukan atas nama kebenaran. Jangan-jangan masalahnya ada di situ. Pancasila semakin sering diucapkan. Semakin sering diperingati. Semakin sering dikutip. Tetapi semakin jarang dipakai untuk bercermin.
Kita lebih mudah menemukan pelanggaran pada orang lain daripada pada diri sendiri. Lebih cepat menunjuk daripada menunduk.
Padahal sejak kecil kita hafal bunyi sila-silanya. Tapi dalam kehidupan sehari-hari, yang terlihat justru sering kali sebaliknya.
Saat berbeda pilihan politik, persahabatan bisa retak. Saat ada orang yang jatuh karena kesalahannya, kita ikut menertawakan. Saat ada yang tertangkap melakukan pelanggaran, kita ramai-ramai menjadi hakim.

Saat harus antre, kita bicara soal keadilan. Tapi saat punya kenalan orang dalam, antrean kadang terasa tidak terlalu penting lagi.
Di situ kadang saya bertanya-tanya. Sebenarnya yang semakin kuat hafalannya, atau pengamalannya?
Kadang saya merasa kita sedang berbagi peran. Atau lebih tepatnya, sedang menyaksikan perang antarpelanggar Pancasila.
Yang melanggar satu sila menghakimi yang melanggar sila lainnya. Lalu bergantian. Saling menunjuk. Saling menyalahkan. Saling menghujat. Saling merasa lebih Pancasilais daripada yang lain. Padahal belum tentu yang satu lebih baik dari yang lain.
Bedanya mungkin hanya satu. Ada yang sedang sial. Ada yang sedang beruntung. Yang satu kesalahannya diketahui banyak orang. Yang satu lagi belum.
Karena itu, setiap kali tanggal 1 Juni tiba, saya selalu merasa Hari Lahir Pancasila seharusnya bukan hanya momentum untuk mengingat apa itu Pancasila. Tetapi juga kesempatan untuk bertanya kepada diri sendiri. Seberapa jauh nilai-nilai itu masih hidup dalam diri kita?
Tahun ini, tema Hari Lahir Pancasila adalah “Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia”.
Tema yang besar.
Bahkan sangat besar.
Karena bukan hanya bicara soal Indonesia.
Tapi juga tentang bagaimana nilai-nilai Pancasila diharapkan bisa memberi manfaat bagi dunia.
Para pendiri bangsa rupanya berpikir jauh.
Tidak hanya soal Indonesia. Tapi juga soal manfaat yang bisa diberikan Indonesia kepada dunia.
Namun sebelum berbicara tentang perdamaian dunia, mungkin ada pertanyaan yang lebih dekat.
Sudahkah kita menghadirkan perdamaian di sekitar kita? Sudahkah kita menghadirkan persatuan dalam kehidupan sehari-hari?
Atau justru kita masih sibuk menghujat, mempermalukan, menghakimi, membuka aib, dan mencari-cari kesalahan orang lain?
Sebab perdamaian sebenarnya lahir dari hal-hal kecil. Dari mulut yang memilih tidak ikut menghina. Dari jari yang memilih tidak ikut menyebarkan kebencian. Dari telinga yang masih mau mendengar pendapat berbeda. Dan dari kebiasaan melihat diri sendiri sebelum sibuk menilai orang lain.
Sulit berbicara tentang perdamaian dunia jika kita masih gemar memecah belah sesama anak bangsa.
Sulit berbicara tentang persatuan jika kita terus memelihara permusuhan karena perbedaan pilihan, pandangan, atau kepentingan.
Maka ketika membaca tema tahun ini, saya justru tidak langsung melihat dunia. Saya malah melihat diri sendiri.
Karena rasanya sulit berbicara tentang perdamaian dunia kalau kita masih gagal berdamai dengan sesama anak bangsa.
Sulit berbicara tentang persatuan dunia kalau di sekitar kita masih mudah muncul kebencian karena perbedaan.
Sebab pada akhirnya, tantangan terbesar Pancasila bukan membuat rakyat Indonesia menghafalnya. Kita sudah hafal sejak sekolah dasar. Yang sulit adalah menjalankannya.
Saat marah. Saat berbeda pendapat. Saat sedang berkuasa. Saat ada kesempatan berbuat curang. Saat tidak ada kamera. Saat tidak ada tepuk tangan. Saat tidak ada yang melihat.
Mungkin di situlah Pancasila benar-benar diuji. Bukan saat upacara berlangsung. Tetapi setelah upacara selesai.
Namun sebelum berbicara tentang perdamaian dunia, mungkin ada pertanyaan yang lebih dekat.
Sudahkah kita menghadirkan perdamaian di sekitar kita? Sudahkah kita menghadirkan persatuan dalam kehidupan sehari-hari?
Atau justru kita masih sibuk menghujat, mempermalukan, menghakimi, membuka aib, dan mencari-cari kesalahan orang lain?
Karena perdamaian ternyata sering dimulai dari hal-hal kecil. Dari mulut yang memilih tidak ikut menghina. Dari jari yang memilih tidak ikut menyebarkan kebencian. Dari telinga yang masih mau mendengar pendapat berbeda. Dan dari kebiasaan melihat diri sendiri sebelum sibuk menilai orang lain.
Sulit berbicara tentang perdamaian dunia jika kita masih gemar memecah belah sesama anak bangsa.
Sulit berbicara tentang persatuan jika kita terus memelihara permusuhan karena perbedaan pilihan, pandangan, atau kepentingan.
Maka ketika membaca tema tahun ini, saya justru tidak langsung melihat dunia. Saya malah melihat diri sendiri.
Karena rasanya sulit berbicara tentang perdamaian dunia kalau kita masih gagal berdamai dengan sesama anak bangsa.
Sulit berbicara tentang persatuan dunia kalau di sekitar kita masih mudah muncul kebencian karena perbedaan.
Sebab pada akhirnya, tantangan terbesar Pancasila bukan membuat rakyat Indonesia menghafalnya. Kita sudah hafal sejak sekolah dasar. Yang sulit adalah menjalankannya.
Saat marah. Saat berbeda pendapat. Saat sedang berkuasa. Saat ada kesempatan berbuat curang. Saat tidak ada kamera. Saat tidak ada tepuk tangan. Saat tidak ada yang melihat.
Mungkin di situlah Pancasila benar-benar diuji. Bukan saat upacara berlangsung. Tetapi setelah upacara selesai. (*)







