TANGERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Saat akan melakukan deposito atau menabung di bank, nasabah biasanya akan mempertimbangkan suku bunga dan jenis bunga yang akan diterima.
Jenis bunga menjadi pertimbangan karena suku bunga yang ditawarkan oleh bank cukup beragam. Salah satunya adalah bunga majemuk.
Perhitungan bunga majemuk tidak sama dengan jenis suku bunga lainnya karena terdapat rumus hitung sendiri.
Bunga majemuk adalah suku bunga yang jumlahnya muncul di setiap akhir periode dan berpengaruh pada besaran modal serta bunga setiap waktu.
Bunga majemuk (compound interest) sering kali disebut dengan bunga berbunga, karena besaran bunga dan modalnya akan terus bertambah di setiap akhir periode.
Pemberian bunga majemuk didasarkan pada modal awal dengan akumulasi dari bunga di periode sebelumnya. Alhasil, jumlah suku bunga per periode tidaklah sama.
Dalam hal investasi, bunga majemuk adalah gabungan dari suku bunga yang asalnya dari modal awal investasi untuk mengoptimalkan nilai aset sebelumnya.
Perbedaan Bunga Majemuk dan Bunga Tunggal
Selain bunga majemuk, bank juga menawarkan suku bunga tunggal (simple interest).
Bunga tunggal merupakan perhitungan bunga yang didasarkan pada jumlah pokok awal.
Jadi, persentase bunganya akan selalu tetap. Bunga majemuk dan tunggal memiliki perbedaan pada besaran modal di periode selanjutnya.
Ketika modal di awal dikenai oleh bunga tunggal, maka nilai modal awal tersebut di periode berikutnya akan tetap sama dan tidak mengalami perubahan.
Sebaliknya, modal awal yang telah dikenai bunga majemuk justru akan bertumbuh pada periode selanjutnya.
Perbedaan tersebut berpengaruh pada hasil akhir masing-masing suku bunga.
Bunga tunggal menghasilkan jumlah akhir yang lebih rendah daripada bunga majemuk.
Sementara itu, jumlah akhir dari bunga majemuk lebih tinggi karena nilai bunga majemuk terus mengalami kenaikan seiring berjalannya waktu.
Di samping itu, akumulasi bunga pun turut menghasilkan bunga di periode selanjutnya. Kondisi ini dapat disebut sebagai efek compounding (bunga berbunga).
Secara umum, bunga tunggal cocok digunakan untuk produk keuangan tertentu atau investasi dalam jangka pendek, seperti obligasi, deposito, dan sukuk.
Di sisi lain, bunga majemuk cenderung lebih efektif dimanfaatkan untuk kartu kredit, investasi jangka panjang, dan pinjaman sebab profitnya relatif besar.
Rumus Bunga Majemuk
Sebelum menghitung bunga majemuk, catat dan kenali dulu rumusnya.
Adapun rumus yang dapat digunakan untuk melakukan perhitungan bunga majemuk adalah:
Mn = Mo × (1+i)n
Keterangan:
Mn : Modal akhir tahun ke-n.
Mo : Modal awal.
i : Persentase bunga (dalam desimal).
n : Periode ke-n (umumnya dalam tahun).
Cara Menghitung Bunga Majemuk
Setelah mengetahui rumus bunga majemuk, langkah selanjutnya adalah memahami perhitungannya.
Tidak terlalu rumit untuk dipraktikkan. Kamu hanya perlu memasukkan angka yang tertera pada contoh soal ke dalam rumus bunga majemuk dengan benar.
Hanya saja, kamu harus melakukan beberapa hal berikut terlebih dahulu:
– Menentukan besaran modal awal,
– Menentukan periode investasi yang bersangkutan,
– Mengubah persentase suku bunga menjadi bentuk desimal.
Untuk memudahkan pemahaman lebih lanjut terkait rumus dan cara menghitung bunga majemuk, perhatikan contoh di bawah ini:
Contoh 1
Nina mempunyai uang sebanyak Rp 2.000.000 dan ingin melakukan investasi di bisnis F&B milik saudaranya. Apabila saudara Nina menjanjikan bunga majemuk sebesar lima persen per tahunnya, maka berapakah jumlah uang total yang dimiliki oleh Nina jika berinvestasi selama lima tahun?
Jawab:
Mn = Mo × (1 + i)n
= Rp 2.000.000 × (1 + 0,05)5
= Rp 2.000.000 × (1,05)5
= Rp 2.000.000 × 1,27
= Rp 2.552.560
Jadi, jumlah total uang yang dimiliki oleh Nina pada tahun kelima adalah senilai Rp 2.540.000 dengan untung sebesar Rp 552.560.
Contoh 2
Pak Deni menabung sebesar Rp 15.000.000 dengan bunga majemuk enam persen setiap triwulan. Berapakah saldo tabungan yang dimiliki oleh pak Deni setelah empat tahun?
Diketahui:
Mo : Rp 15.000.000
i : 6%
1 tahun : 4 triwulan
4 tahun : 4 x 4 triwulan = 16 triwulan → n = 16
Jawab:
Mn = Mo × (1 + i)n
= Rp 15.000.000 × (1 + 0,06)16
= Rp 15.000.000 × (1,06)16
= Rp 38.114.440
Jadi, saldo tabungan pak Deni setelah 16 triwulan atau empat tahun adalah Rp 38.114.440.
Editor: Agus Priwandono











