JAKARTA, RADARBANTEN.CO.ID – Film Sore: Istri dari Masa Depan terus mencuri perhatian. Karya terbaru sutradara Yandy Laurens ini tidak hanya membuat penontonnya larut dalam emosi, tapi juga mencatatkan pencapaian luar biasa. Hingga 1 Agustus 2025 malam, jumlah penonton resmi film ini telah menembus angka 2,5 juta, seperti dikutip dari tabloidbintang.com.
Dengan momentum yang masih sangat kuat, film yang tayang sejak 10 Juli 2025 ini diperkirakan akan menyentuh angka 3 juta penonton dalam waktu dekat, menjadikannya salah satu film Indonesia paling sukses tahun ini — dan yang paling sukses sepanjang karier Yandy Laurens.
Dari 44 Ribu ke Jutaan Penonton
Awalnya, Sore tayang terbatas. Hanya sekitar 44 ribu penonton hadir di hari pertama. Namun, karena antusiasme tinggi dan ulasan positif yang terus berdatangan, jumlah layar dan jam tayang meningkat drastis di seluruh Indonesia.
Yang membuat film ini berbeda adalah formulanya yang berani: drama romantis dengan sentuhan fiksi ilmiah soal waktu. Alih-alih horor atau komedi yang biasanya mendominasi bioskop Indonesia, Sore memilih jalan sunyi — dan ternyata justru berhasil membuka jalan baru bagi genre yang lebih kontemplatif dan emosional.
Salah satu pendorong popularitasnya adalah dukungan dari publik figur dan kritikus. Sutradara Ernest Prakasa bahkan menyebut film ini sebagai “POETIC!”, dan bangga karena film seberat ini bisa sukses secara komersial.
Dari Menangis Sampai Merinding
Reaksi penonton pun luar biasa. Seorang penggemar menulis di Medium bahwa ia telah menonton film ini tiga kali, dan mengaku “keluar bioskop masih merinding.” Menurutnya, setiap kali menonton ulang, ada detail yang membuatnya semakin relate, dan menciptakan campuran rasa hampa, senang, sedih, dan bahagia.
Di TikTok dan Instagram, akun resmi @ceritafilms dibanjiri testimoni. Banyak yang menyebut film ini “bikin nangis tapi juga menghibur,” dan menggambarkannya sebagai rollercoaster emosional.
Tak hanya penonton umum, reaksi dari selebritas juga menguatkan posisi film ini sebagai fenomena budaya. Vidi Aldiano mengatakan:
“Film ini bikin aku sadar… kadang yang mengubah hidup seseorang itu bukan omelan, tapi kehadiran dan kasih sayang.”
Sementara akun TikTok resmi band Barasuara menyebut:
“Mukul pemikiran kita: ‘Kalau aku bisa balik ke masa lalu, aku pasti bakal jadi orang yang lebih baik.’”
Dipuji Media dan Kritikus
Media dan pengulas pun tak kalah memuji. Suara.com menulis bahwa banyak artis yang hadir di pemutaran perdana film ini tercengang dan kehilangan kata-kata.
Situs Tuwaga.id merangkum tujuh keunggulan utama film ini, termasuk:
– Twist emosional yang membekas selama berhari-hari,
– Visual estetik dengan lokasi syuting di Kroasia, Finlandia, dan Jakarta,
– Chemistry Sheila Dara dan Dion Wiyoko yang natural dan menyentuh.
Penulis Medium Ramadhan menyebut film ini sebagai refleksi tentang cinta, kehilangan, dan keputusan-keputusan kecil yang bisa mengubah masa depan. Sedangkan pengulas lain, Rafflesia, menyebut Sore sebagai “absolute cinema”—penuh simbol, penuh rasa, dan dengan alur waktu yang cerdas namun tetap membumi.
Sore: Kisah Cinta dari Masa Depan
Film ini bercerita tentang Jonathan, seorang fotografer Indonesia yang tinggal di Kroasia. Hidupnya tampak tenang hingga muncul sosok perempuan misterius bernama Sore yang mengaku sebagai… istrinya dari masa depan.
Awalnya terdengar mustahil, tentu saja. Tapi kehadiran Sore membawa ketenangan, kepedulian, dan cinta yang perlahan mengubah Jonathan. Bukan sekadar menyapa masa depan, Sore mencoba membimbing Jonathan untuk hidup lebih sehat, lebih sadar, dan lebih bahagia.
Di balik kisah cintanya, Sore menyentuh tema mendalam tentang penyesalan, kebiasaan buruk, pilihan hidup, dan pertanyaan eksistensial.
“Jika kamu tahu masa depanmu akan hancur, apakah kamu akan berubah sekarang?”
Film ini cocok bagi pencinta cerita romantis, penggemar fiksi waktu, dan siapa saja yang sedang berjuang dengan masa lalu atau belajar memaafkan diri sendiri.
Karena mungkin, di balik segala hal yang kita sesali, kita semua butuh satu sosok seperti Sore—yang datang bukan untuk memperbaiki semuanya, tapi sekadar untuk menemani dan mengingatkan bahwa kita layak untuk bahagia.
Editor: Aas Arbi











