PANDEGLANG, RADARBANTEN.CO.ID – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Pandeglang mengklaim angka prevalensi stunting di Kabupaten Pandeglang itu pada 2025 mengalami penurunan signifikan dalam beberapa tahun terakhir.
Berdasarkan data terbaru, angka stunting yang mencakup balita pendek dan sangat pendek saat ini berada di 26,4 persen.
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Dinkes Pandeglang, Encep Hermawan mengungkapkan, capaian tersebut menurun dibandingkan tahun pertama pemantauan yang mencapai 37,8 persen, dan 29,4 persen pada tahun sebelumnya. Meski begitu, angka ini masih di atas target nasional sebesar di bawah 20 persen serta target Provinsi Banten sebesar 21 persen.
“Untuk kategori balita sangat pendek saja, prevalensinya 21,4 persen. Jadi kita masih punya PR besar untuk mencapai target nasional,” ungkap Encep Hermawan, Jumat 15 Agustus 2025.
Encep menyebut penurunan ini merupakan hasil kerja sama lintas sektor melalui pendekatan pentahelix. Kolaborasi melibatkan pemerintah daerah, pihak swasta, pelaku usaha, masyarakat, dan pemangku kepentingan lain.
“Upaya ini menyasar semua tahap mulai dari remaja, ibu hamil, bayi, hingga balita,” jelasnya.
Berdasarkan catatan Dinkes, jumlah anak stunting di Pandeglang kini tersisa 2.974 anak. Angka tersebut menurun setiap tahun dari sebelumnya yang mencapai lebih dari 3.000 anak.
Pencegahan stunting di Pandeglang dilakukan sejak masa remaja. Remaja putri mendapatkan tablet tambah darah setiap minggu di sekolah maupun pondok pesantren untuk mencegah anemia.
Bagi ibu hamil, dilakukan pemeriksaan kehamilan (ANC) minimal enam kali, dengan dua kali pemeriksaan oleh dokter disertai USG. Ibu hamil berisiko juga menerima pemberian makanan tambahan (PMT).
“Bayi dan balita mendapatkan imunisasi lengkap, ASI eksklusif, pemantauan tumbuh kembang, serta layanan posyandu secara rutin,” kata Encep.
Menurutnya, Dinkes memiliki 11 indikator intervensi spesifik, di antaranya pemberian PMT bagi ibu hamil dan anak dengan gizi kurang, distribusi tablet tambah darah untuk remaja putri, edukasi gizi, dan peningkatan layanan kesehatan ibu dan anak.
Meski ada penurunan, Encep mengakui kesadaran masyarakat tentang stunting masih rendah, terutama di wilayah pelosok. Edukasi dinilai belum merata sehingga pemahaman masyarakat terkait pencegahan stunting masih terbatas.
“Banyak masyarakat yang belum memahami apa itu stunting dan cara mencegahnya. Edukasi terus dilakukan lewat puskesmas, kegiatan lapangan, dan dukungan pemerintah provinsi,” ujarnya.
Ke depan, Dinkes Pandeglang akan memperkuat kolaborasi lintas sektor dan meningkatkan intensitas edukasi. Harapannya, angka stunting bisa terus ditekan hingga mencapai target pemerintah.
“Kalau bisa, kami ingin Pandeglang zero stunting, walaupun sulit sampai nol. Minimal kita bisa capai target nasional,” tutupnya.
Editor: Bayu Mulyana











