RADARBANTEN.CO.ID – Kalau ngomongin jajanan tradisional, ada satu yang rasanya bikin nostalgia ke masa kecil: cendil. Jajanan manis berbentuk bulat-bulat kenyal ini masih bisa ditemui sampai sekarang, meski cara menjajakannya sudah agak berubah.
Kalau dulu sering kita lihat di pasar atau dibungkus daun pisang, sekarang banyak penjual cendil yang keliling kampung pakai sepeda motor, dengan wadah plastik besar berisi cendil dan laukannya di bagian belakang.
Cendil biasanya disajikan dengan kuah santan gurih yang dicampur gula merah cair. Perpaduan manis dan gurihnya itu lho, bikin nagih. Tekstur kenyalnya pun jadi daya tarik utama.
Selain itu, ada juga versi lain yang lebih “berisi”: cendil campur jagung rebus dan ketan hitam, lalu diberi gula pasir serta parutan kelapa. Rasanya unik—manis, gurih, sekaligus bikin kenyang. Variasi ini jadi favorit banyak orang karena lebih rame dan kaya rasa.
Yang bikin cendil tetap spesial adalah sentuhan old school dari para penjualnya. Walaupun sekarang wadahnya plastik dan dijajakan pakai motor, resepnya masih mempertahankan cara tradisional: adonan dari tepung ketan, santan segar, dan gula asli tanpa perasa instan. Hasilnya, rasanya tetap otentik seperti dulu.
Beli cendil keliling juga punya sensasi tersendiri. Suara motor berhenti di depan rumah, lalu si penjual membuka wadah plastik dan menyajikan campuran cendil, jagung, ketan hitam, plus taburan kelapa. Sederhana, tapi justru itu yang bikin suasana makin hangat dan nostalgic.
Jadi, meskipun sekarang banyak orang tergoda dessert modern kayak bubble tea atau es kopi kekinian, cendil tetap punya tempat istimewa. Karena selain murah meriah, cendil adalah comfort food old school yang bisa bikin kita ingat rumah—dan mungkin juga masa kecil.
Editor: Mastur Huda











