PANDEGLANG, RADARBANTEN.CO.ID – Dalam Program Sang Amaca yang tayang di kanal YouTube Pandeglang TV kembali mencuri perhatian. Dalam tayangan yang dikutip RADARBANTEN.CO.ID, budayawan muda Cakra Widiantara mengulas sejumlah naskah tua Sunda atau Uga. Salah satunya tentang sosok misterius bernama Budak Janggotan.
Tokoh ini kerap muncul dalam pantun dan wangsit peninggalan leluhur Sunda.
Cakra menjelaskan, berbeda dengan Budak Angon yang banyak disebut dalam Uga, sosok Budak Janggotan justru minim keterangan.
Namun, peran Budak Janggotan dianggap penting karena selalu hadir berdampingan dengan Budak Angon.
“Tidak mungkin ada Budak Angon tanpa Budak Janggotan. Keduanya satu kesatuan,” kata Cakra dalam tayangan tersebut.
Menurutnya, Budak Janggotan digambarkan memiliki ciri simbolik berpakaian serba hitam, bersarung hitam, dan membawa kaneron butut atau tas anyaman kuno. Tas itu disebut bukan berwarna hitam, melainkan melambangkan pengetahuan ‘putih’ atau ilmu kebaikan.
“Artinya dia membawa ilmu masa lalu, pengetahuan leluhur Sunda untuk mengingatkan orang yang tersasar,” ujarnya.
Cakra menambahkan, Budak Janggotan memiliki tugas utama ngelingan kanu keur poho atau mengingatkan orang Sunda yang lupa akan amanat leluhur.
Namun dalam kisahnya, Budak Janggotan sering kali tidak dipercaya. Bahkan, ada simbol bahwa nasihatnya ditolak, lalu ia ditewak atau ditangkap dan dimasukkan ke penjara.
Uniknya, Uga juga menyebutkan bahwa Budak Angon dan Budak Janggotan kelak akan dipertemukan di sebuah tempat bernama Lebak Cawene. Tempat itu diyakini sebagai titik pertemuan spiritual keduanya, yang ditafsirkan sebagai simbol kolaborasi dua sosok penting.
“Ada yang menyebut, pertemuan itu ibarat dikawinkan, artinya keduanya akan bersatu membawa perubahan,” jelas Cakra.
Kemunculan Budak Janggotan disebut terjadi pada era yang digambarkan sebagai zaman sato atau zaman ketika perilaku manusia menyerupai sifat-sifat binatang. Kondisi ini, kata Cakra, sudah banyak dirasakan saat ini.
“Perilaku manusia banyak yang mendekati sifat hewan, inilah salah satu tanda zaman berganti,” katanya.
Meski masih banyak tafsir, diskusi soal Budak Janggotan terus menarik perhatian publik.
“Yang jelas, tokoh ini paling misterius, bahkan disebut nyumput buni di nuca caang atau tersembunyi dari pengetahuan umum,” pungkasnya.
Editor: Agus Priwandono










