SERANG,RADARBANTEN.CO.ID- Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Desa Citasuk, Kecamatan Padarincang, Kabupaten Serang disuspand buntut adanya dugaan kasus keracunan masal yang menimpa guru dan siswa di SMAN 1 Padarincang.
Diketahui, kasus dugaan Keracunan masal di SMAN 1 Padarincang menimpa sebanyak 71 orang yang terdiri dari 59 Siswa dan 12 orang guru.
Mereka mengalami gejala mual, muntah, sakit perut hingga diare usai menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dibagikan oleh dapur. Mereka pun kemudian dilarikan ke Puskesmas Pabuaran, Kelinik, RS Bhayangkara dan ke RS Citra Arafiq.
Kepala Satgas Percepatan MBG Kabupaten Serang, Muhammad Najib Hamas, mengatakan pihaknya telah mendatangi langsung lokasi dapur SPPG yang berada di Desa Citasuk, Kecamatan Padarincang.
Ia mengungkapkan, mayoritas siswa yang menjalani perawatan sudah kembali ke rumahnya masing-masing. Namun masih ada satu guru yang masih dirawat karena masih lemas.
“Satu guru masih dirawat di RS Citra Arafiq kota serang, masih proses pemulihan mudah-mudahan hari ini sudah bisa pulang,” katanya, Senin 25 Mei 2026.
Najib Hamas mengatakan, tindak lanjut dari kejadian tersebut, tim pengawasan dari Badan Gizi Nasional (BGN) pusat dan koordinator wilayah (Korwil) akan mendatangi lokasi dapur untuk melakukan pendalaman.
Sementara waktu, Koordinator wilayah sudah mengusulkan agar dapur tersebut Disuspend sementara untuk melakukan perbaikan muali dari SOP dan lain sebagainya.
“Kita sarankan kepada SPPG melakukan konfirmasi ke sekolah atau penerima manfaat agar antara jarak pengiriman dengan jadwal makan itu jangan terlalu lama gitu,” ujarnya.
Ia mengatakan, ada sejumlah perbaikan yang harus dilakukan oleh SPPG sebelum mereka kembali beroperasional. Pertama menerapkan harus memperbaiki Istalasi Perbuangan Air Limbah (IPAL) yang ada di dapur.
“Pertama Ipal itu posisinya jangan ada di tengah, dan harus digeser ke belakang. Mereka juga harus memasak Ipal yang berstandar, itu mereka sudah order dan sudah datang, tinggal dipasang,” ujarnya.
Lalu persoalan sirkulasi udara yang kurang baik, pihak SPPG pun diminta untuk melakukan perbaikan, dimana mereka perlu memasang heksos atau lubang udara.
“Lalu lantai agar kebersihan terjaga, mereka harus menambah evoksi. Apabila itu semua sudah terpenuhi, maka akan dilakukan evaluasi kembali oleh BGN,” ujarnya.
Najib mengungkapkan, sempel makanan yang diduga menjadi penyebab keracunan sudah dibawa ke laboratorium BGN pusat. “Mudah-mudahan hari Selasa atau Rabu sudah keluar hasilnya,” pungkasnya.
Reporter: Ahmad Rizal Ramdhani









