PANDEGLANG, RADARBANTEN.CO.ID – Jalur kereta api Saketi-Bayah adalah jalur kereta api nonaktif yang menghubungkan Stasiun Saketi, Kecamatan Saketi, Kabupaten Pandeglang dengan Stasiun Bayah, Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak, termasuk dalam Wilayah Penjagaan Aset PT KAI Daops I Jakarta. Jalur kereta api Saketi-Bayah ini merupakan sebuah percabangan dari Stasiun Saketi, Kecamatan Saketi, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten.
Lintasan rel kereta api Saketi-Bayah ini membentang sepanjang 89 kilometer dan lebar sepur 1.067 milimeter.
Jalur rel kereta api ini dibangun pada tahun 1943-1944 oleh pekerja romusha pada zaman pendudukan Jepang di Indonesia. Jalur ini melewati 29 jembatan, 9 stasiun dan 5 halte.
Yakni Stasiun Saketi, Jasugi, Cimanggu, Kaduhauk, Jalupang, Pasung, Kerta, Gintung, Malingping, Cilangkahan, Sukahujan, Cihara, Panyaungan, Cisiiih.
Kemudian Stasiun Bayah, Karangtaraje, Darmasari, Gunung Madur.
Setelah beroperasi selama beberapa tahun jalur yang dibangun oleh para tawanan perang Jepang (romusha) untuk mengangkut hasil batu bara dengan moda kereta api ini ditutup pada tahun 1951.
Antara tahun 1942-1944, lintas kereta api Rangkasbitung –Saketi-Bayah itu sangat ramai. Konon, penumpang selalu berjejal hingga pintu-pintu kereta dan lokomotif.
Kereta api jurusan Rangkasbitung-Labuan melalui stasiun Saketi, mengalami masa jaya cukup panjang dari tahun 1940 sampai 1980. Penumpang jurusan Pandeglang, Rangkasbitung, Jakarta, dan sekitarnya, yang turun dari stasiun Labuan, umumnya para pedagang hasil pertanian dan hasil hutan hingga para pedagang ikan pindang.
Sejak tahun 1983 kereta di lintasan tersebut tidak pernah lewat lagi, padahal arus penumpang banyak.
Banyak sudah penduduk Banten selatan meminta agar lintas kereta api Rangkasbitung-Labuan diaktifkan lagi.
Ini sangat membantu masyarakat Banten mengangkut hasil pertanian ke Jakarta dengan biaya angkut jauh lebih murah.
Adapun lokomotif yang sering menarik gerbong penumpang Rangkasbitung ke Labuan adalah lok uap nomor BB.5138. Sedangkan lokomotif yang biasa ke Labuan melewati stasiun Saketi, waktu itu masih lokomotif uap yang digelari masyarakat Banten sebagai lokomotif koboi.
Ketua DPRD Kabupaten Pandeglang Tb Agus Khatibul Umam berharap, selain mereaktivasi jalur kereta api Rangkasbitung-Labuan tapi juga jalur kereta api Saketi-Bayah.
“Secara pribadi, saya memang belum pernah naik gerbong kereta api Saketi-Bayah. Tapi menurut cerita dari orangtua, keberadaannya sangat membantu masyarakat Banten selatan,” katanya kepada RADARBANTEN.CO.ID, melalui sambungan telepon selularnya, Minggu, 5 Oktober 2025.
Jalur kereta api Saketi-Bayah dibangun oleh bangsa Indonesia yang menjadi tawanan Jepang. Dibangun oleh banyak nyawa yang seharusnya dihargai dengan diaktifkannya kembali menjadi transportasi massal.
“Waktu masa penjajahan, kereta api digunakan untuk mengangkut hasil tambang batu bara. Dan setelah Indonesia merdeka digunakan oleh warga untuk mengangkut hasil pertanian,” katanya.
Pada masa itu, warga Bayah dan sekitarnya saat belanja ke pasar banyak yang turun di Stasiun Saketi. Jadi belanjanya di Pasar Saketi.
“Namun kini yang tersisa hanya cerita dan bangun eks Stasiun Saketi dan sisa rel dan bangunan lainnya. Semoga saja ke-depan jalur rel kereta api Stasiun Saketi-Stasiun Bayah kembali diaktifkan untuk mendorong percepatan pertumbuhan ekonomi Banten selatan,” katanya.
Editor: Bayu Mulyana











