TANGERANG, RADARBANTEN.CO.ID — Berawal dari sepiring telur oseng sederhana yang dijajakan di gerobak pinggir jalan, kini Oseng Endok menjelma menjadi restoran modern penuh inovasi dengan cita rasa khas Nusantara.
Kisah ini bermula dari kolaborasi antara Ello MG, kreator konten kuliner dengan lebih dari 9,7 juta pengikut di TikTok, dan Pewlin, sosok di balik gerobak oseng endok yang sempat viral di media sosial.
Restoran Oseng Endok resmi dibuka di Ruko Graha, Jl. KH. Hasyim Ashari No.9K, Ciledug, Tangerang, pada Sabtu, 18 Oktober 2025. Kehadirannya menjadi bukti bahwa makanan kaki lima bisa naik kelas lewat inovasi, riset rasa, dan pengelolaan profesional.
“Waktu itu dia mention aku di TikTok, aku samperin. Pas aku coba, rasanya enak banget dan paling proper kalau dijadikan menu restoran,” ujar Ello MG, Minggu 19 Oktober 2025.
Ello kemudian mengakuisisi usaha tersebut dan mengembangkannya menjadi restoran dengan konsep comfort food bergaya kekinian tanpa meninggalkan cita rasa autentik khas warungnya.
Transformasi Oseng Endok tak hanya terjadi pada tampilannya, tapi juga pada sistem dapur, riset rasa, dan penyajian. Dari pengembangan yang dilakukan tim Ello, kualitas rasa meningkat hingga 80 persen lebih baik dari versi awal.
“Menu utama kami, Nasi Oseng Endok Guyur, tetap jadi favorit, dibanderol Rp13.000. Ada juga menu osengan premium seperti Oseng Cumi Ireng Balakutak (Rp25.500), Oseng Iga Mercon (Rp20.000), Oseng Tunjang Gongso (Rp24.800), Oseng Ceker Jeletot (Rp18.800), dan Oseng Krecek Gudekan (Rp16.400),” ungkap Ello.
Seluruh hidangan disajikan dengan pilihan nasi putih atau nasi jeruk beraroma daun jeruk, dilengkapi jukut goreng, telur krispi, dan sambal khas — mulai dari sambal hijau hingga sambal iris. Keunikan lainnya, semua menu disajikan di atas daun jati, menghadirkan aroma khas yang memperkaya pengalaman bersantap.
“Dulu konsepnya gerobakan, sekarang kami bikin restoran yang lebih nyaman dengan ruangan ber-AC, tapi tetap membawa suasana rumahan,” kata Ello.
Selain menu utama, Oseng Endok juga menghadirkan tujuh varian sate khas Nusantara, dari yang semula hanya sate telur. Kini ada sate udang, sate usus anyam, sate kulit, sate gembus (campuran tempe dan tahu), hingga sate koyor yang empuk kenyal, dengan harga mulai Rp4.000. Semua disajikan dengan sambal pedas gurih khas Oseng Endok.
Sebagai pelengkap, tersedia camilan dan menu ringan seperti kerupuk renyah, puding cup, potongan buah segar, hingga martabak bandeng — inovasi yang menggabungkan cita rasa gurih dan manis.
“Kita ingin semua orang bisa nikmatin makanan di sini, jadi pilihannya juga lebih banyak,” ujar Ello.
Menariknya, meski kualitas meningkat, harga justru dibuat lebih terjangkau.
“Dulu Pewlin jual sekitar Rp15 ribu, sekarang malah turun jadi Rp13 ribu untuk menu paling murah. Biar semua masyarakat bisa nyobain dan pasti balik lagi,” katanya.
Secara bisnis, Ello optimistis terhadap masa depan Oseng Endok. Sejak hari pertama pembukaan, antusiasme masyarakat sangat tinggi. Ia bahkan menyiapkan dua hingga tiga cabang baru serta ekspansi ke produk siap saji (FMCG).
“Alhamdulillah, hari pertama aja hype-nya luar biasa. Aku yakin ini bisa panjang. Kuncinya produk harus enak. Karena kalau enak, orang pasti balik lagi,” ujarnya penuh semangat.
Dalam pengelolaannya, Oseng Endok juga menggandeng grup Sambal Bakar Indonesia, yang berpengalaman mengelola puluhan cabang restoran di berbagai kota.
“Untuk menjaga konsistensi rasa dan kualitas, Oseng Endok dijalankan dengan sistem dapur terstandardisasi dan memiliki Central Kitchen,” tutup Ello.
Reporter: Mulyadi











