PANDEGLANG, RADARBANTEN.CO.ID – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaksanakan kegiatan Sekolah Lapang Gempa bumi dan Tsunami (SLG) 2025 di Kecamatan Sumur, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten.
Kegiatan ini menjadi langkah strategis dalam membangun masyarakat yang siaga dan tangguh bencana, khususnya menghadapi potensi gempa bumi dan tsunami.
SLG yang digelar pada Sabtu (18/10/2025) ini menjadikan Pandeglang sebagai lokasi utama, karena wilayah tersebut memiliki tingkat risiko tinggi terhadap bencana gempa dan tsunami.
Direktur Seismologi Teknik, Geofisika Potensial, dan Tanda Waktu BMKG, Setyoajie Prayoedhie, mengatakan bahwa edukasi kesiapsiagaan menjadi hal krusial melihat tren peningkatan frekuensi gempa serta kompleksitas mekanisme pembangkitan tsunami.
“SLG adalah wujud kepedulian negara terhadap keselamatan bangsa dari ancaman bahaya yang nyata,” ujarnya dikutip dari Info BMKG, Minggu (19/10/2025).
Setyoajie menjelaskan, risiko bencana dapat dikurangi apabila mitigasi dilakukan secara terencana dan melibatkan berbagai pihak, termasuk masyarakat.
“Kabupaten Pandeglang memiliki tingkat kerawanan tinggi karena dipengaruhi empat sumber utama potensi bencana,” katanya.
Empat sumber tersebut meliputi:
1. Zona Megathrust Selatan Jawa dengan potensi magnitudo hingga 8,9 skala Richter.
2. Zona sesar aktif, seperti Sesar Semangko dan Sesar Ujung Kulon.
3. Zona Graben Selat Sunda yang berpotensi menimbulkan longsor dasar laut.
4. Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau.
Peristiwa tsunami 22 Desember 2018 akibat longsoran Anak Krakatau dan gempa berkekuatan M6,9 tahun 2019 menjadi pengingat nyata bahwa ancaman bencana di Pandeglang bersifat kompleks — baik dari sumber tektonik maupun nontektonik.
“Peristiwa itu menjadi pelajaran penting agar seluruh pihak memperkuat sistem mitigasi dan kesiapsiagaan masyarakat,” tegasnya.
⸻
Reporter: Purnama Irawan











