SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Realisasi pendapatan pajak pada bulan November di Kabupaten Serang menyentuh angka Rp501,4 miliar atau sebesar 86,20 persen dari target yang telah ditetapkan.
Realisasi pajak terbesar berada di sektor Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) yang mencapai Rp132,2 miliar dari target sebesar Rp132,7 miliar, atau sebesar 99,74 persen.
Kepala Bidang Penagihan, Verifikasi, dan Pemeriksaan pada Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kabupaten Serang, A. Nizamudin Muluk, mengatakan bahwa pada tahun ini pihaknya menargetkan pendapatan pajak di luar opsen sebesar Rp581,7 miliar.
“Realisasi setelah perubahan sudah mencapai 86,20 persen, itu semua di luar opsen pajak ya,” katanya saat ditemui di Setda Pemkab Serang, Kamis, 6 November 2025.
Ia menambahkan, realisasi terbesar berada di sektor Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) yang sudah mencapai 99,74 persen.
Selain itu, ada dua sektor pajak lain yang realisasinya sudah lebih dari 90 persen, yakni pajak reklame sebesar Rp4,8 miliar atau 91,76 persen, serta pajak mineral bukan logam dan batuan (MBLB) sebesar Rp15,1 miliar atau 92,69 persen.
“Lalu untuk sektor lainnya masih di bawah 90 persen, seperti PJJ tenaga listrik yang sudah di angka 86,68 persen,” ujarnya.
Sementara itu, sektor pajak yang realisasinya masih rendah ialah pajak Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB), yakni sebesar Rp104,5 miliar atau 73,96 persen.
“Targetnya sebesar Rp141,3 miliar. Masih sangat rendah karena memang pajak BPHTB ini unik, berbeda dengan pajak lainnya. Karena yang melakukan pembebasan lahan saat ini belum tentu langsung mengurus BPHTB-nya, bisa jadi menunggu selesai semua,” ujarnya.
Pihaknya menargetkan realisasi pajak tahun ini bisa maksimal, yakni mencapai 100 persen.
“Realisasi mudah-mudahan kita sampai 100 persen, tetap optimis, karena dari setiap jenis pajak yang masih paling kecil hanya di pajak BPHTB sekitar 73,96 persen. Untuk lainnya itu sudah sesuai dengan role yang kita rencanakan,” ujarnya.
Ditambah lagi, terdapat potensi peningkatan pendapatan dari sektor pajak MBLB akibat meningkatnya aktivitas kendaraan truk tambang dari Bogor.
“Kita optimis MBLB bisa lebih dari 100 persen,” pungkasnya.











