SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Generasi Z atau Gen Z kini mulai melirik perak sebagai alternatif investasi masa depan. Logam berwarna putih ini dinilai mampu menjadi aset pelindung nilai (hedging) di tengah inflasi dan gejolak harga emas yang terus melambung.
Fenomena ini menandai perubahan pola investasi masyarakat muda, yang sebelumnya menjadikan emas sebagai primadona dalam menyimpan kekayaan.
Lonjakan harga emas selama satu tahun terakhir, yang sempat menembus Rp2,4 juta per gram sebelum turun menjadi Rp2,2 juta, menjadi salah satu pemicu tren ini. Sementara itu, harga perak juga menunjukkan tren kenaikan akibat meningkatnya permintaan global — terutama dari sektor energi terbarukan dan industri elektronik.
Sejumlah analis menilai, perak memiliki potensi apresiasi jangka panjang, seiring meningkatnya kebutuhan logam ini dalam teknologi modern seperti panel surya, kendaraan listrik, dan semikonduktor.
“Kalau beli emas kan kemahalan, makanya sekarang saya mulai nabung perak buat investasi,” kata Indah, seorang Gen Z asal Serang, Senin 10 November 2025.
Mengapa Perak Mulai Diminati?
- Permintaan Industri Terus Tumbuh
Perak merupakan konduktor listrik dan panas terbaik di antara semua logam. Karena itu, permintaannya tinggi di industri energi bersih dan teknologi digital. - Harga Lebih Terjangkau dari Emas
Dengan harga yang relatif rendah, perak memungkinkan investor pemula membeli dalam jumlah lebih banyak untuk peluang keuntungan jangka panjang. - Nilai Simpan yang Stabil
Meski harganya bisa berfluktuasi, perak tetap dianggap aset safe haven yang mampu menjaga nilai kekayaan di masa ketidakpastian ekonomi.
Siapa yang Cocok Berinvestasi di Perak?
- Investor pemula dengan modal terbatas namun ingin mulai menabung logam mulia.
- Mereka yang memahami tren teknologi hijau dan energi terbarukan.
- Investor yang ingin diversifikasi portofolio, tidak hanya bergantung pada emas atau saham.
Kesimpulan
Menabung perak bukan sekadar tren sesaat, tetapi strategi investasi masa depan yang relevan di tengah perubahan ekonomi dan kemajuan teknologi. Namun, investor tetap perlu mempertimbangkan fluktuasi harga dan metode penyimpanan yang sesuai agar investasi tetap aman dan optimal.











