KOTA TANGSEL, RADARBANTEN.CO.ID- Dalam momentum peringatan Hari Pahlawan Nasional, Wali Kota Tangsel Benyamin Davnie mengenang sosok ayahnya, Edwin Mugni Sastradipura, yang turut berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Kisah perjuangan sang ayah menjadi sumber inspirasi dan teladan bagi Benyamin dalam menjalankan pengabdian kepada bangsa.
Edwin Mugni Sastradipura lahir di Bogor pada tahun 1925. Di usia muda, ia bergabung dalam Tentara Pelajar dan kemudian dididik oleh Jepang sebagai anggota Pembela Tanah Air (PETA).
Semangat juang yang berkobar membuatnya diterjunkan ke berbagai medan pertempuran di wilayah Jawa Barat.
“Beliau ikut bertempur di banyak daerah, karena memang tergabung dalam pasukan Siliwangi. Bahkan, sempat ikut dalam long march dari Bandung ke Yogyakarta,” kenang Benyamin usai melakukan tabur bunga di Taman Makam Pahlawan Seribu, Senin, 10 November 2025.
Setelah masa perjuangan fisik berakhir, Edwin Mugni melanjutkan pengabdiannya di dunia militer. Ia pernah ditugaskan sebagai perwira distrik militer di Pandeglang, jabatan yang setara dengan komandan distrik (Dandim) saat ini.
Tak lama kemudian, ia ditarik ke Kodam Jaya untuk menempuh pendidikan militer lanjutan dan bertugas hingga masa pensiunnya pada tahun 1980 dengan pangkat kolonel.
“Terakhir beliau menjabat sebagai asisten personel di Kodam Jaya. Waktu itu sempat ditawari naik jabatan oleh Pangdam Jaya, Pak Norman Sasono, tapi beliau menolak. Katanya sudah cukup, sudah lelah berperang,” tutur Benyamin.
Tak hanya sang ayah, kakek Benyamin juga dikenal sebagai tokoh pergerakan asal Pandeglang, Banten. Namun, jejak sang kakek hilang sejak masa penjajahan Belanda.
“Katanya beliau ditangkap Belanda dan tidak pernah kembali. Diduga dibunuh, dan sampai sekarang kami kehilangan jejaknya,” ujar Benyamin dengan nada haru.
Bagi Benyamin, kisah perjuangan keluarganya menjadi pengingat penting tentang arti pengabdian dan nasionalisme yang sejati.
Ia menilai, semangat juang di era modern ini tidak lagi dalam bentuk perlawanan bersenjata, tetapi melalui pembangunan bangsa.
“Kalau dulu perjuangan melawan penjajahan, sekarang perjuangannya melawan kemiskinan, kebodohan, dan kejahatan. Semua itu harus dilandasi nilai-nilai Pancasila,” tegasnya.
Benyamin juga menekankan pentingnya menanamkan nilai-nilai Pancasila bagi seluruh lapisan masyarakat, terutama para pejabat dan birokrasi.
“Menghafal Pancasila itu mudah, tapi memahami dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari itu yang sulit. Nilai ketuhanan, kemanusiaan, dan persatuan harus menjadi sikap hidup,” ujarnya.
Dalam pesannya kepada generasi muda, Benyamin menegaskan bahwa perjuangan masa kini adalah perjuangan menuntut ilmu dan menjauhi hal-hal negatif.
“Jauhi narkoba, jauhi tawuran, jauhi kebodohan. Tugas generasi muda adalah belajar, karena bangsa ini menunggu mereka untuk memimpin,” katanya.
Peringatan Hari Pahlawan di Kota Tangerang Selatan diisi dengan upacara dan tabur bunga sebagai bentuk penghormatan kepada para pejuang yang telah berkorban demi kemerdekaan Indonesia, sekaligus menjadi momen refleksi untuk melanjutkan semangat juang mereka di era modern.
Reporter: Syaiful Adha
Editor: Agung S Pambudi











