PANDEGLANG, RADARBANTEN.CO.ID- Sebanyak 300 kios pedagang pakaian di Pasar Badak Pandeglang, Kelurahan Pandeglang, Kecamatan Pandeglang mengalami gulung tikar atau bangkrut.
Hal itu karena pedagang pakaian kehabisan modal atau kegagalan finansial dalam menjalankan usahanya.
Adapun penyebab utama pedagang pakaian sampai mengalami gulung tikar ialah kalah bersaing dengan pasar online.
Dimana begitu derasnya pasar online tanpa memberikan perlindungan terhadap pasar tradisional.
Padahal banyak keluarga mengandalkan ekonomi keluarganya dari hasil berjualan pakaian Pasar Badak.
Namun apa daya saat ini masyarakat dapat membeli pakaian secara online dengan harga lebih murah ketimbang beli dari pasar.
Kalah saing harga dengan pasar online inilah menyebabkan ratusan kios pakaian Pasar Badak Pandeglang tutup pada tahun 2025.
Salah satu pedagang Pasar Badak Pandeglang Neni Anggraeni mengatakan, pedagang pakaian banyak yang gulung tikar.
“Karena kalah saing dengan pasar online. Jadi banyak pedagang memilih menutup usahanya (kiosnya),” katanya kepada RADARBANTEN.CO.ID, Rabu, 12 November 2025.
Para pedagang pasar tradisional kalah bersaing dengan pasar online dari segi harganya. Lebih murah ketimbang beli dari pasar.
“Sehingga membuat pasar kini menjadi sepi. Masyarakat berbondong-bondong belanja pakaian melalui pasar online bukan lagi ke pasar tradisional,” katanya.
Pasar online kini telah mengalahkan pasar tradisional. Khususnya untuk transaksi penjualan pakaian.
“Kalaupun kita ikut pasar online ya tetap kalah. Karena kan Pandeglang bukan pusat industri tekstil, jadi ketika kita ikut pasar online juga kalah saing dari harga,” katanya.
Neni berharap, kepada pemerintah agar menerbitkan regulasi kaitan dengan pembatasan pembelian pasar online.
Minimal mengeluarkan larangan melayani pembelian pakaian di bawah Rp1 juta secara online atau COD.
“Jadi pasar online itu hanya jenis barang tertentu saja. Kalau saja regulasi ini terbit maka pasar tradisional khususnya pelaku bisnis pakaian akan kembali hidup,” katanya.
Namun, apabila pemerintah tetap tutup mata akan kondisi saat ini. Sudah pasti, toko pakaian mengalami gulung tikar pada pasar tradisional akan terus bertambah banyak.
“Semoga saja harapan pedagang ini didengar oleh pemerintah. Karena kami juga butuh perlindungan dan perhatian agar bisa terus menyambung hidup,” katanya.
Reporter : Purnama Irawan
Editor: AgungbS Pambudi











