JAKARTA, RADARBANTEN.CO.ID — Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ahmad Tholabi Kharlie, menegaskan bahwa wisuda bukan akhir perjalanan akademik, melainkan awal tanggung jawab moral dan sosial bagi sarjana Muslim.
Penegasan tersebut ia sampaikan dalam orasi ilmiah pada prosesi wisuda Sarjana Sekolah Tinggi Agama Islam Muslim Asia Afrika di Hotel ADIA Suite UIN Jakarta, Ahad, 11 Januari 2026.
Dalam orasinya, Tholabi menyampaikan bahwa gelar akademik hanya menjadi pintu masuk menuju tanggung jawab yang lebih besar. Ia menilai status alumni menyimpan amanah moral karena ilmu yang diperoleh akan diuji langsung dalam kehidupan nyata.
“Wisuda bukan garis akhir, tetapi starting point untuk kehidupan yang sesungguhnya,” ujarnya di hadapan wisudawan, orang tua, dan sivitas akademika.
Lebih lanjut, Tholabi menggambarkan dunia pascakampus sebagai ruang yang bergerak cepat dan penuh ketidakpastian. Perkembangan teknologi, kecerdasan buatan, serta derasnya arus informasi, menurutnya, sering kali tidak sejalan dengan kejernihan nilai dan empati manusia.
Dalam konteks tersebut, Tholabi menekankan lulusan perguruan tinggi keislaman harus mampu bersikap adaptif sekaligus berprinsip.
“Dalam situasi ini, lulusan perguruan tinggi keislaman dituntut bukan hanya adaptif, tetapi juga berprinsip,” katanya.
Selain itu, Tholabi mengutip pemikir pendidikan John Dewey yang menyatakan bahwa pendidikan merupakan bagian dari kehidupan itu sendiri. Ia menambahkan, dalam perspektif Islam, pendidikan tidak berhenti pada penguasaan pengetahuan, melainkan membentuk watak, akhlak, serta orientasi hidup.
Oleh karena itu, ia menyebut wisuda sebagai awal ujian etika dan integritas. Dunia kerja dan ruang publik akan menguji sejauh mana ilmu berpadu dengan kejujuran, tanggung jawab, dan kematangan pribadi.
“Tanpa nilai-nilai luhur, prestasi akademik berisiko kehilangan makna sosial,” tegasnya.
Tholabi juga menyoroti kecenderungan sebagian lulusan yang terjebak pada ukuran formal kesuksesan. Ia mengingatkan bahwa keberhasilan sejati tidak hanya diukur dari jabatan dan penghasilan, tetapi dari ketenangan batin serta manfaat yang diberikan kepada sesama.
Menurutnya, pesan tersebut relevan di tengah krisis kepercayaan publik dan krisis makna yang melanda masyarakat modern. Ia menilai lulusan perguruan tinggi keislaman justru diharapkan tampil sebagai pribadi yang menenangkan dan dapat dipercaya.
Menutup orasinya, Tholabi kembali menegaskan bahwa wisuda merupakan awal perjalanan panjang pengabdian.
“Di titik inilah nilai, iman, dan ilmu diuji dalam kehidupan nyata, bukan di ruang ujian, tetapi di tengah masyarakat,” pungkasnya.
Editor: Aas Arbi











