SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali tertekan. Pada perdagangan Senin, 19 Januari 2026, rupiah ditutup melemah di level Rp16.971,20 per dolar AS, mendekati ambang psikologis Rp17.000 per dolar.
Pelemahan ini memperpanjang tren negatif rupiah dalam beberapa pekan terakhir, seiring meningkatnya tekanan dari faktor global dan domestik. Di pasar spot, rupiah bergerak fluktuatif namun cenderung berada di zona merah sejak awal tahun 2026.
Analis pasar uang menilai, penguatan dolar AS secara global menjadi faktor utama yang menekan mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia. Dolar masih menjadi aset aman (safe haven) di tengah ketidakpastian ekonomi dunia dan tensi geopolitik yang belum mereda.
Selain faktor global, sentimen dari dalam negeri turut memberi tekanan. Kekhawatiran pasar terhadap kondisi fiskal serta perlambatan ekonomi global membuat arus modal asing cenderung berhati-hati masuk ke pasar keuangan Indonesia.
Di sisi lain, pelemahan rupiah juga dipengaruhi oleh kebutuhan impor yang meningkat di awal tahun, khususnya untuk sektor energi dan bahan baku industri. Permintaan dolar untuk pembayaran impor ikut mendorong tekanan pada nilai tukar.
Pelemahan rupiah berpotensi berdampak pada kenaikan harga barang impor dan menambah tekanan inflasi. Namun, di sisi lain, kondisi ini dapat meningkatkan daya saing ekspor karena produk Indonesia menjadi lebih murah di pasar internasional.
Bank Indonesia (BI) menegaskan akan terus menjaga stabilitas nilai tukar melalui intervensi di pasar valuta asing serta menjaga keseimbangan suplai dan permintaan dolar. BI juga terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah guna menjaga stabilitas ekonomi makro.
Ke depan, pergerakan rupiah diperkirakan masih akan volatil. Pelaku pasar akan mencermati perkembangan ekonomi global, kebijakan bank sentral AS, serta kondisi fundamental ekonomi domestik sebagai penentu arah nilai tukar rupiah.*
Editor : Krisna Widi Aria











