SERANG, RADARBANTEN.CO.ID — Siang itu, di rumah sederhana Kampung Golok, Desa Kampung Baru, Kecamatan Pamarayan, Kabupaten Serang, Salinah duduk termenung. Di usia 71 tahun, nenek ini masih menyimpan luka mendalam. Impiannya berangkat umrah yang telah ia rajut selama puluhan tahun pupus setelah diduga ditipu muthawif, Mustofa.
Bagi Salinah, umrah bukan sekadar perjalanan ibadah. Itu adalah mimpi hidup yang ia kumpulkan rupiah demi rupiah dari hasil kerja kerasnya di sawah dan kebun selama puluhan tahun.
“Dari puluhan tahun ngumpulin uang hasil tandur. Dapat Rp20 ribu, ditabung Rp10 ribu. Dapat Rp5 ribu, ditabung Rp2 ribu,” ungkap Salinah, Minggu, 15 Februari 2026.
Uang yang terkumpul tidak datang sekaligus. Sedikit demi sedikit, kadang dari hasil tani, kadang dari pemberian orang lain. Harapan itu sempat terasa begitu dekat ketika proses keberangkatan berjalan. Salinah membayangkan mengenakan ihram dan berdiri di depan Ka’bah—mimpi yang ia peluk sejak lama.
“Sudah di bandara saja saya merasa senang. Apalagi kalau sudah ke Tanah Suci,” katanya.
Kasus ini bermula Oktober 2025. Anak Salinah, Sanimah (49), bercerita pada kakak terduga pelaku tentang rencana mereka menunaikan umrah. Dari situlah nama Mustofa muncul.
Mustofa diperkenalkan sebagai muthawif yang kerap memberangkatkan jamaah. Di mata warga, ia adalah tokoh agama yang sering mengisi pengajian, dengan latar keluarga terpandang di desa, yang menambah kepercayaan korban.
Tanpa curiga, keluarga ini mengikuti program umrah mandiri 12 hari dengan jadwal keberangkatan 8 Februari 2026. Awalnya, Sanusi (54) dan Sanimah membayar total Rp61 juta, bertahap: uang muka Rp3 juta untuk paspor dan pelunasan Rp58 juta pada 18 Desember 2025.
Memasuki Januari 2026, Salinah ikut tergugah untuk bergabung, menyiapkan Rp31 juta. Ia menyerahkan uang muka Rp1,5 juta, kemudian mentransfer Rp15 juta untuk tiket pesawat pada 8 Januari 2026 ke rekening BRI atas nama Mustofa.
Beberapa hari kemudian, pelunasan Rp14,5 juta kembali dikirim. Para korban bahkan menerima perlengkapan umrah dan mengikuti tujuh kali manasik. Semua terlihat meyakinkan.
Namun, tanggal keberangkatan 8 Februari 2026 tiba tanpa penerbangan. Tidak ada kepastian, hanya kekecewaan dan tabungan puluhan tahun yang diduga lenyap.
“Kesel ya pasti kesel, cuma mau gimana lagi sudah terjadi,” ujar Salinah pasrah.
Lebih menyakitkan, sosok yang dipercaya adalah muthawif sekaligus tokoh agama di lingkungan mereka. Kini, di usia senja, Salinah hanya berharap uangnya kembali dan mimpinya ke Tanah Suci tetap ada harapan. Anak dan menantunya juga mengalami nasib serupa.
Di rumah sederhana itu, Salinah tetap memupuk harapan dari setiap rupiah hasil kerja kerasnya. Ia mungkin gagal berangkat kali ini, tapi doanya tetap sama: suatu hari menjejakkan kaki di Tanah Suci.
Editor: Mastur Huda











