PANDEGLANG, RADARBANTEN.CO.ID – Bulan suci Ramadan 2026 tampaknya tak sepenuhnya membawa berkah bagi petani dan pedagang timun suri di Kabupaten Pandeglang. Pasokan buah musiman yang identik dengan bulan puasa itu disebut menurun dibandingkan tahun lalu.
Salah satu pedagang timun suri di Jalan Raya AMD Lintas Timur, Iman, mengatakan hasil panen tahun ini berkurang akibat faktor cuaca. Kondisi tersebut berdampak pada jumlah stok yang masuk ke pasaran.
“Kalau sekarang dari petani Rp4.000 per kilogram. Kalau sudah di jalan atau dijual lagi bisa Rp4.500 per kilogram,” kata Iman saat ditemui di lapaknya, Jumat 20 Februari 2026.
Ia menjelaskan, pada Ramadan tahun lalu hasil panen dari lahan seluas satu kotak bisa mencapai lebih dari 2 kuintal. Namun tahun ini produksinya merosot hampir setengahnya.
“Ramadan tahun kemarin, luas tanam satu kotak bisa dapat 2 kuintal lebih. Sekarang karena pengaruh cuaca kurang bagus, paling cuma dapat sekitar 1 kuintal,” ujarnya.
Selain dijual per kilogram, timun suri juga dipasarkan secara satuan dengan harga bervariasi tergantung ukuran.
“Kalau satuan tergantung ukuran. Ada yang Rp15 ribu, Rp10 ribu, sampai Rp5 ribu,” ujarnya.
Iman mengaku dibandingkan Ramadan tahun lalu, harga timun suri tahun ini mengalami kenaikan. Hal itu dipicu berkurangnya jumlah petani yang menanam serta hasil buah yang tidak sebanyak sebelumnya.
“Tahun kemarin banyak yang tanam, buahnya juga melimpah. Sekarang yang nanam kurang, buahnya juga berkurang,” jelasnya.
Meski stok tak sebanyak tahun lalu, Iman menyebut minat pembeli masih cukup tinggi, terutama di awal Ramadan. Bahkan, ia menilai pembeli tetap ramai meski pasokan terbatas.
“Pembeli masih ada saja. Awal-awal puasa juga ramai. Alhamdulillah rezeki tetap ada, walaupun hasil panennya sedikit,” ucapnya.
Ia menyebutkan, stok timun suri masih akan tersedia hingga akhir Ramadan. Pasalnya, sebagian tanaman yang masih muda diprediksi baru akan panen menjelang akhir bulan puasa.
“Kalau yang sudah tua panennya dari awal puasa. Yang masih muda nanti jatuhnya ke akhir. Biasanya menjelang akhir puasa malah lebih ramai lagi,” imbuhnya.
Sementara itu, salah satu pembeli, Ridwan, mengaku merasakan adanya perbedaan kualitas dan harga timun suri pada Ramadan tahun ini dibandingkan tahun sebelumnya.
Menurutnya, selain stok yang tidak sebanyak tahun lalu, kondisi buah yang dijual juga dinilai kurang bagus. Hal itu turut berpengaruh pada harga di pasaran.
“Iya agak mahal sedikit kalau sekarang. Dulu tahun kemarin masih murah, terus banyak pilihan buahnya. Sekarang ini sedikit,” ujar Ridwan.
Ia berharap pasokan timun suri bisa kembali normal menjelang akhir Ramadan agar harga lebih stabil dan masyarakat memiliki lebih banyak pilihan saat membeli buah untuk berbuka puasa.
Reporter: Moch Madani Prasetia
Editor: Agung S Pambudi











