SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Indonesia kembali pulang dari All England 2026, dengan tangan hampa alias tanpa gelar juara.
Jangankan meraih gelar, dari 14 wakil yang diturunkan pada turnamen BWF Super 1000 ini, tak ada satupun yang lolos ke partai pamungkas alias final.
Paling bantar hanya Raymond Indra/Nikolaus Joaquin, ganda putra yang tembus sampai Semi Final, sebelum dikalahkan Seou Seung Jae/Kim Won Hoo, ganda no 1 dunia asal Korsel dengan dua gim langsung 19-21, 13-21.
Sisanya mentok di perempat final, 16 besar dan tersisih di babak awal turnamen paling tua nan bergengsi setelah olimpiade.
Datang dengan kekuatan 14 wakil, Indonesia mengincar target minimal 1 gelar juara pada gelaran All England 2026.
Asa Indonesia meloloskan satu wakilnya ke final melalui sektor ganda putra, setelah Raymond Indra/Nikolaus Joaquin tampil apik membuat kejutan dengan mengalahkan Ganda Putra peringkat tiga dunia asal China, Whang Chan/Liang Weikeng di Perempat Final dengan dua gim langsung 21-18, 21-12.
Kekalahan wakil terakhir turnamen yang digelar di Utilita Arena Birmingham menyesakkan Merah Putih, karena sudah dua tahun terakhir Nir gelar.
Gelaran tahun 2025, Indonesia masih menampatlan satu wakilnya di Final ganda putra melalui Bagas Maulana/ Leo Rolly Carnando. Namun sayang di final dikalahkan Seo Seung Jae/Kim Won Hoo.
Padahal sejak 2021 hingga 2024, Indonwsia selalu meraih 1 gelar. Bahkan, pada edisi 2024, Indonesia berjaya dengan menampatkan tiga wakilnya di Final dan berhasil membawa 2 gelar yang diraih Jonatan Christie dan Fajar Alfian/Rian Ardianto.
“Di gim pertama kami sudah unggul tapi konsentrasinya kurang jadi lawan bisa membalikkan keadaan. Mereka punya kekuatan yaitu bisa tampil konsisten terutama di poin-poin akhir,” kata Raymond Indra dalam kererangan dikutip dari pbsi.id.
Raymond mengatakan, kekalahan dari ganda nomor 1 dunia itu menjadi pengalaman berharga untuk mengarungi kompetisi di tingkat elit dunia.
“Pengalaman yang sangat berharga kami dapat di All England ini. Dari babak pertama kami tidak menemukan lawan yang mudah, semuanya setara di level Super 1000. Makin tinggi levelnya makin susah juga,” katanya.
Senada juga dikatakan Nikolaus Joaquin. Kata dia, pada awalnya berpikirnya sama-sama di lapangan, memunyai chance yang sama untuk menang.
“Sebenarnya, sama-sama punya kans hanya tergantung memang siapa yang lebih siap. Dan hari ini kami mengakui kekalahan kami, mereka lebih siap hari ini,” katanya.
Menghadapi ganda peringkat satu dunia, ganda muda ini banyak mendapat pelajaran. Dimana, dari pemanasan saja auranya sudah berbeda. Meskipun menghadapi kenyataan kalah dari Kim/Seo, tidak dijadikan beban.
“Puji Tuhan senang bisa kesampaian lawan mereka. Kim/Seo dengan kekonsistenannya, benar-benar stabil terus dari awal sampai akhir. Kami akan mencoba meniru seperti mereka supaya bisa kami bisa lebih baik ke depannya,” katanya.
Editor Daru











