SERANG, RADARBANTEN.CO.ID — Demisioner Ketua Kwartir Daerah (Kwarda) Gerakan Pramuka Provinsi Banten periode 2021–2026, Septo Kaldani, membagikan refleksi panjang perjalanan pengabdiannya di organisasi kepanduan tersebut sekaligus menyampaikan harapan kepada kepengurusan baru.
Septo mengaku telah lebih dari dua dekade berproses di Pramuka, dimulai dari tingkat kwartir cabang hingga dipercaya memimpin Kwarda Banten. Pengalaman panjang itu, menurutnya, bukan sekadar perjalanan organisasi, tetapi juga ruang pembentukan karakter dan cara pandang dalam kehidupan.
“Kurang lebih 20 tahun saya di kwartir cabang, kemudian menjadi andalan hingga wakil ketua, dan akhirnya dipercaya menjadi ketua. Saya bertahan selama itu karena lingkungan Pramuka yang luar biasa,” ujarnya, Selasa 7 April 2026.
Ia menggambarkan suasana di Pramuka sebagai ruang yang egaliter dan penuh kebersamaan. Tidak ada sekat jabatan maupun latar belakang, sehingga setiap anggota dapat berinteraksi secara terbuka.
“Di sini tidak ada sekat. Semua dipanggil ‘kakak’, tidak pernah merasa tua. Bahkan ini mempengaruhi kehidupan kedinasan saya, cara bergaul jadi lebih terbuka dan inklusif,” ungkap pria yang aktif menjabat sebagai Kepala Disnakertrans Banten ini.
Namun demikian, Septo juga mengakui bahwa organisasi Pramuka masih menghadapi sejumlah tantangan, salah satunya terkait kemandirian keuangan. Hingga kini, menurutnya, banyak aktivitas organisasi yang masih bergantung pada dukungan pihak lain karena belum memiliki badan usaha yang kuat dan berkelanjutan.
“Kendala yang kita hadapi adalah soal kemandirian. Kita belum punya badan usaha yang bisa menopang keuangan organisasi secara mandiri,” katanya.
Ke depan, Septo berharap kepengurusan baru mampu memperkuat hubungan kelembagaan, baik dengan Majelis Pembimbing Daerah maupun dengan Kwartir Nasional, sehingga sinergi program dapat berjalan lebih optimal.
“Kami berharap hubungan dengan majelis pembimbing daerah semakin kuat, komunikasi dengan kwartir nasional juga terjaga dengan baik. Itu penting untuk mendukung kolaborasi dan sinergi program,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan kembali akar sejarah berdirinya Gerakan Pramuka yang disatukan melalui Keputusan Presiden Nomor 238 Tahun 1961 sebagai gerakan pendidikan karakter bagi generasi muda Indonesia.
“Pramuka ini dibentuk untuk membina karakter generasi muda. Kita tidak punya panji seperti TNI atau Polri, tapi kita punya peran besar dalam membangun watak bangsa,” tegasnya.
Menurut Septo, nilai-nilai dasar seperti Dasa Dharma Pramuka yang mengedepankan sikap cinta tanah air, kepatuhan, dan musyawarah harus terus ditanamkan, terutama dalam menghadapi tantangan menuju Indonesia Emas 2045.
“Nilai-nilai itu yang harus kita jaga. Saya yakin generasi ke depan, menuju 2045, akan sangat ditentukan oleh sejauh mana kita menanamkan karakter hari ini,” pungkasnya.
Reporter : Yusuf Permana
Editor: Agung S Pambudi











