SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Ketua KTNA Banten, Oong Syahroni, menilai program magang petani milenial ke Jepang memberikan dampak signifikan bagi pengembangan sektor pertanian di Provinsi Banten.
Menurutnya, pengalaman dari program serupa sebelumnya telah terbukti membawa manfaat nyata, terutama dalam meningkatkan keterampilan serta membentuk pola pikir petani yang lebih modern dan adaptif.
“Kita melihat pengalaman belajar ke Jepang ini membawa banyak manfaat bagi petani di Banten,” ujarnya, Kamis 9 April 2026.
Oong mengungkapkan, pada tahun 2026 kuota program magang secara nasional hanya sebanyak 21 orang, dan seluruhnya berhasil diisi oleh peserta asal Banten. Hal ini, kata dia, tidak terlepas dari dukungan penuh Gubernur Banten, Andra Soni.
“Alhamdulillah Pak Gubernur merespons dengan sangat baik,” katanya.
Para peserta magang akan dibagi ke dalam dua kelompok masa belajar, yakni selama 11 bulan hingga 2 tahun. Selama berada di Jepang, mereka akan mempelajari sistem pertanian dan peternakan modern yang diharapkan dapat diterapkan di Banten.
“Insya Allah mereka bisa menimba banyak ilmu dan nantinya memberikan kontribusi positif bagi pertanian di Banten,” jelasnya.
Ia juga meyakini para peserta memiliki komitmen kuat untuk kembali ke daerah asal dan berkontribusi dalam pembangunan sektor pertanian.
Oong turut mengapresiasi langkah Pemerintah Provinsi Banten yang dinilai progresif, termasuk dalam hal pembiayaan program. Ia menyebut seluruh biaya keberangkatan peserta ditanggung melalui APBD, yang menurutnya menjadi satu-satunya di Indonesia.
“Saya sebagai Ketua KTNA sangat mengapresiasi semangat Pak Gubernur, termasuk kebijakan menanggung biaya keberangkatan. Ini satu-satunya di Indonesia,” tegasnya.
Lebih lanjut, Oong menilai Banten memiliki potensi pertanian yang sangat besar, namun belum tergarap secara optimal. Oleh karena itu, peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi kunci utama dalam pengembangan sektor ini.
“Banten ini seperti surga yang terlempar ke bumi, tapi belum tergali potensinya,” ungkapnya.
KTNA Banten, lanjutnya, berkomitmen untuk terus membina para peserta setelah kembali dari Jepang agar mampu menjadi penggerak pertanian modern di daerah.
“Semangat anak-anak muda untuk bertani harus terus dijaga. Sepulang dari Jepang nanti akan kita bina, tidak dilepas begitu saja,” pungkasnya.
Editor: Mastur Huda











