KOTA TANGSEL, RADARBANTEN.CO.ID-Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai menunjukkan dampak signifikan terhadap industri susu nasional. Selain mendorong peningkatan konsumsi, program ini juga memicu lonjakan kebutuhan kemasan, yang membuka peluang besar bagi produsen dalam negeri.
Guru Besar Ilmu dan Teknologi Susu Fakultas Peternakan IPB University, Epi Taufik, mengatakan bahwa MBG menciptakan pasar baru yang sangat besar, khususnya untuk produk susu siap minum seperti UHT.
“Kalau program ini berjalan penuh, penerimanya bisa mencapai puluhan juta orang, mulai dari siswa hingga ibu hamil dan balita. Artinya, kebutuhan susu dan kemasannya akan meningkat drastis,” ujarnya, Senin 13 April 2026.
Menurutnya, selama ini kebutuhan kemasan aseptik untuk susu di Indonesia masih didominasi produk impor. Kondisi tersebut dinilai menjadi peluang bagi industri lokal untuk mulai mengambil porsi pasar.
“Selama ini hampir seluruh kemasan masih impor. Kalau sebagian saja bisa beralih ke produksi dalam negeri, dampaknya sudah sangat besar,” jelasnya.
Namun demikian, ia menegaskan bahwa Badan Gizi Nasional (BGN) tidak terlibat langsung dalam penentuan pembelian produk. Seluruh pengadaan bahan pangan, termasuk susu, dilakukan oleh dapur pelaksana program di berbagai daerah.
“BGN hanya mengelola anggaran dan mengawasi kualitas. Tidak boleh mengarahkan harus membeli dari perusahaan tertentu,” tegasnya.
Ia menambahkan, pergeseran penggunaan kemasan dari impor ke lokal akan sangat bergantung pada mekanisme pasar.
Jika produsen dalam negeri mampu menawarkan kualitas yang setara atau lebih baik dengan harga lebih kompetitif, maka pelaku industri akan beralih secara alami.
“Kalau kualitasnya sama atau lebih bagus, harganya lebih murah, dan tidak perlu impor, saya yakin industri susu akan memilih produk lokal,” katanya.
Dampak MBG juga mulai terlihat dari respons pelaku industri. Sejumlah perusahaan diketahui telah meningkatkan kapasitas produksi untuk memenuhi lonjakan permintaan susu.
“Sudah ada investasi mesin baru untuk produksi susu. Artinya, kebutuhan kemasan juga ikut meningkat,” ungkapnya.
Selain faktor harga dan kualitas, kondisi global seperti fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar juga menjadi pertimbangan. Penggunaan produk lokal dinilai lebih efisien karena tidak bergantung pada impor.
Di sisi lain, tantangan besar masih dihadapi dalam meningkatkan produksi susu nasional. Untuk mendukung kebutuhan MBG, ketersediaan bahan baku menjadi faktor krusial yang harus diperkuat.
Meski pemerintah telah memasukkan peningkatan produksi susu dalam Proyek Strategis Nasional (PSN), realisasi di lapangan masih membutuhkan waktu.
“Pelaku usaha sudah mulai bergerak, seperti impor sapi perah dan pembangunan peternakan baru. Ini menunjukkan pasar merespons peluang dari MBG,” jelasnya.
Ia menilai, program MBG menjadi momentum penting untuk mendorong kemandirian industri, baik dari sisi produksi susu maupun rantai pasok pendukung seperti kemasan.
“Ini peluang besar. Tinggal bagaimana dimanfaatkan oleh industri dalam negeri agar tidak terus bergantung pada impor,” pungkasnya.
Editor: Bayu Mulyana











