SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Percepatan perubahan di berbagai sektor menuntut birokrasi memiliki pemimpin yang adaptif, responsif, dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat yang terus berkembang. Karena itu, Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) Tingkat II dinilai menjadi instrumen penting untuk menyiapkan pemimpin birokrasi yang mampu menghadapi tantangan tersebut.
Hal itu disampaikan Deputi Bidang Transformasi Pembelajaran Aparatur Sipil Negara (ASN) Lembaga Administrasi Negara (LAN) RI, Erna Irawati, saat menghadiri pembukaan Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) Tingkat II Angkatan XVI Tahun 2026 di Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Daerah (BPSDMD) Provinsi Banten, Selasa, 9 Juni 2026.
Menurut Erna, dunia saat ini berada dalam situasi yang ditandai dengan percepatan perubahan yang sangat tinggi. Kondisi tersebut tidak dapat ditolak maupun ditunda hanya karena organisasi merasa belum siap.
“Saat ini kita berada dalam situasi yang ditandai dengan percepatan perubahan yang sangat tinggi. Kita tidak bisa mengatakan tunggu dulu berubah karena belum siap. Perubahan akan terus berjalan dan birokrasi harus mampu mengikutinya,” ujarnya.
Ia menilai, tantangan terbesar birokrasi saat ini adalah menghadirkan pelayanan publik yang mampu memenuhi ekspektasi masyarakat yang terus meningkat. Bahkan, masyarakat kini tidak lagi membandingkan kualitas pelayanan pemerintah dengan pelayanan di masa lalu.
Sebaliknya, masyarakat cenderung membandingkan pelayanan pemerintah dengan layanan dari sektor lain yang dinilai lebih cepat, mudah, dan responsif.
“Masyarakat saat ini jarang membandingkan pelayanan yang diterima sekarang dengan pelayanan pemerintah di masa lalu. Mereka justru membandingkan dengan pelayanan yang diberikan sektor lain. Ini menjadi tantangan yang harus dijawab oleh birokrasi,” katanya.
Menurut Erna, setiap perubahan selalu menghadirkan tantangan sekaligus peluang. Oleh karena itu, organisasi membutuhkan pemimpin yang mampu melihat potensi di balik perubahan dan mengubahnya menjadi peluang untuk meningkatkan kinerja.
Ia menegaskan, sosok pemimpin adaptif menjadi kebutuhan utama di tengah dinamika yang terus berkembang. Pemimpin tidak hanya dituntut menjalankan rencana yang telah disusun, tetapi juga mampu merespons berbagai perubahan yang datang dari luar organisasi.
“Pemimpin adaptif adalah pemimpin yang fleksibel. Selain menghadapi perubahan yang sudah direncanakan, mereka juga harus mampu merespons berbagai tantangan yang muncul dari luar dan mengubahnya menjadi peluang bagi organisasi,” jelasnya.
Erna menambahkan, melalui PKN Tingkat II, para peserta diharapkan mampu memperkuat kapasitas kepemimpinan strategis sekaligus menjadi agen perubahan di instansi masing-masing.
Menurutnya, keberhasilan seorang pemimpin tidak hanya diukur dari kemampuannya menjalankan program, tetapi juga dari kemampuannya mengakselerasi sumber daya manusia serta membangun kolaborasi untuk menghasilkan perubahan yang berdampak.
“Yang dibutuhkan saat ini adalah pemimpin yang mampu menghadirkan perubahan. Karena itu, PKN Tingkat II menjadi ruang pembelajaran yang sangat penting untuk membentuk pemimpin transformasional di lingkungan birokrasi,” pungkasnya.
Editor: Mastur Huda











