KABUPATEN TANGERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Tempat pembuangan akhir (TPA) Jatiwaringin yang berada di Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang sedari kemarin sore hingga siang ini, pukul 13.30 WIB, Rabu 1 Juli 2026 masih mengalami kebakaran.
Nampak api dan asap membumbung tinggi keatas langit.
Akibat kebakaran tersebut, asap pekat nampak menyelimuti langit Utara Kabupaten Tangerang. Dimana, asap tersebut bisa berpotensi menggangu kesehatan bagi warga sekitar.
Ebeng (30) salah satu warga setempat mengeluhkan asap pekat akibat kebakaran TPA tersebut.
Sebab kata dia, asap pekat yang membumbung tinggi tersebut akan turun kepada lingkungan warga sekitar. Sehingga, hal itu ditakuti oleh warga akan berpotensi menggangu kesehatan pada Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
“Iya bang, kami jelas takut dampak dari asap pekat yang membumbung tinggi. Takutnya bisa mengganggu pernapasan.”ujar Ebeng, Rabu 1 Juli 2026.
Ebeng berharap kepada dinas terkait agar segera memadamkan kebakaran yang terjadi di TPA Jatiwaringin tersebut.
“Ini kami di sini di perumahan dekat TPA Jatiwaringin terasa pengap bang,”katanya.
Merespons kondisi tersebut, Kepala BNPB Letjen TNI Dr. Suharyanto menginstruksikan jajarannya untuk segera menuju lokasi guna melakukan asesmen lanjutan, berkoordinasi dengan pemerintah daerah, serta memperkuat upaya pemadaman.
“Iya, kami upayakan segera dipadamkan,” ujar Suharyanto.
Berdasarkan hasil asesmen sementara di lapangan, proses pemadaman mengalami kendala karena material yang terbakar didominasi sampah dan bahan mudah terbakar.
Selain itu kata dia, titik api berada pada tumpukan sampah dengan ketinggian tertentu sehingga sulit dijangkau oleh petugas.
Kondisi tersebut diperparah dengan hembusan angin yang cukup kencang serta cuaca panas yang menyebabkan api cepat menjalar ke berbagai arah.
Untuk mempercepat pengendalian kebakaran, Kepala BNPB menginstruksikan pengerahan helikopter water bombing guna mendukung operasi pemadaman dari udara.
“Kita datangkan dua helikopter water bombing dan jika diperlukan lakukan operasi modifikasi cuaca,” tegas Suharyanto.
Editor Daru











