SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Menanamkan budaya membaca sejak usia dini tidak selalu harus dilakukan melalui aktivitas membaca buku di dalam kelas. Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Provinsi Banten menghadirkan pendekatan yang lebih kreatif melalui Lomba Bertutur Tingkat SD/MI se-Provinsi Banten Tahun 2026.
Kegiatan yang berlangsung di Ruang Teater DPK Provinsi Banten, Selasa, 28 Juli 2026, tersebut diikuti perwakilan peserta dari delapan kabupaten/kota se-Banten.
Para peserta tampil membawakan cerita dengan gaya masing-masing. Mereka dituntut tidak hanya menguasai alur cerita, tetapi juga mampu menghidupkan tokoh, membangun suasana, memainkan ekspresi, dan menyampaikan pesan moral kepada penonton.
Kepala DPK Provinsi Banten, Usman Assiddiqi Qohara, mengatakan lomba bertutur bukan sekadar kompetisi untuk mencari pemenang. Kegiatan tersebut menjadi salah satu media untuk menumbuhkan kecintaan anak terhadap buku, cerita rakyat, dan budaya Nusantara.
“Melalui lomba bertutur, kita ingin menanamkan kecintaan anak-anak terhadap buku dan cerita rakyat Nusantara. Dari membaca lahir pengetahuan, sedangkan dari bertutur lahir keberanian, kreativitas, dan kemampuan berkomunikasi,” ujarnya.
Menurut Usman, kemampuan bertutur memiliki keterkaitan erat dengan budaya membaca. Anak yang gemar membaca akan memperoleh pengetahuan dan pengalaman dari berbagai cerita, sedangkan kemampuan bertutur memberikan ruang bagi mereka untuk mengolah kembali informasi yang diperoleh dan menyampaikannya kepada orang lain.
Karena itu, ia berharap para peserta tidak berhenti membaca dan bertutur hanya karena kompetisi telah selesai. Mereka diharapkan dapat menjadi contoh sekaligus mengajak teman-teman sebayanya untuk semakin mencintai literasi.
Sementara itu, Kepala Bidang Perpustakaan DPK Provinsi Banten, Tunul Lasniatin, mengatakan seluruh peserta yang tampil merupakan hasil seleksi terbaik dari masing-masing kabupaten/kota.
Menurutnya, kemampuan peserta menunjukkan bahwa pembinaan literasi di daerah terus mengalami perkembangan. Anak-anak tidak hanya mampu menghafal cerita, tetapi juga dapat menyampaikannya dengan ekspresi dan penghayatan yang baik.
“Seluruh peserta telah menunjukkan kemampuan yang luar biasa. Mereka tidak hanya mampu menghafal cerita, tetapi juga menghidupkan tokoh, membangun suasana, serta menyampaikan pesan moral dengan sangat baik. Hal ini menunjukkan bahwa pembinaan literasi di daerah terus berkembang,” katanya.
Melalui lomba bertutur, DPK Banten berharap aktivitas literasi dapat dikemas dengan cara yang menyenangkan dan dekat dengan dunia anak.
Selain menumbuhkan kegemaran membaca, kegiatan tersebut juga menjadi sarana untuk melatih keberanian tampil di depan umum, meningkatkan kemampuan komunikasi, serta memperkenalkan kembali cerita rakyat dan kearifan lokal kepada generasi muda.
Dengan pendekatan tersebut, budaya literasi diharapkan tidak hanya tumbuh melalui kegiatan membaca, tetapi juga berkembang menjadi kemampuan untuk memahami, mengolah, dan menyampaikan kembali pengetahuan secara kreatif.*
Editor : Krisna Widi Aria








