LEBAK, RADARBANTEN.CO.ID – Museum Multatuli menggelar pameran pengembangan koleksi seperti pada tahun-tahun sebelumnya. Tahun ini, Museum Multatuli menghadirkan pameran sampul-sampul buku Max Havelaar dari berbagai terjemahan bahasa di dunia, di Pendopo Museum Multatuli, Rabu 10 September 2025.
Pameran ini mengangkat tema “One Story, Many Voices Max Havelaar Speaks to Everyone” yang menyoroti kekayaan visual dari sampul-sampul buku Max Havelaar sejak novel monumental karya Multatuli pertama kali muncul pada tahun 1860. Melalui beragam desain sampul, pengunjung diajak untuk menelusuri bagaimana satu karya sastra mampu berbicara dengan banyak suara, lintas zaman, dan lintas budaya.
Setiap sampul tidak hanya menjadi penanda edisi, melainkan juga representasi dari konteks sosial, politik, dan artistik pada masanya. Pelaksanaan pameran ini berlangsung dari tanggal 09-14 September 2025 di halaman pendopo Museum Multatuli Rangkasbitung.
Ginandar kuratorial dan preparator mengatakan pameran menghadirkan rangkaian sampul langka yang memperlihatkan bagaimana sebuah novel mampu melintasi batas geografis, bahasa, dan zaman.
“Kuratorial pameran ini tidak hanya menekankan pada aspek estetika visual, tetapi juga pada narasi sosial dan sejarah yang menyertai setiap edisi,” tuturnya.
Ia menjelaskan, bahwa kegiatan menyoroti Langkah-Langkah kuratorial pameran ini menampilkan proses kuratorial yang cermat, menelusuri jejak penerbitan Max Havelaar dari masa ke masa.
“Edisi-Edisi Unik Max Havelaar Salah satu daya tarik utama pameran adalah hadirnya edisi-edisi unik dari Max Havelaar. Edisi “Met Zombie” yang mengusung tafsir kontemporer dengan pendekatan visual eksperimental. Edisi “Lockdown” yang lahir pada masa pandemi, merefleksikan kondisi dunia ketika karya klasik ini dibaca ulang dalam konteks krisis global,” tuturnya.
“Edisi Bahasa Melayu, yang memperlihatkan bagaimana Max Havelaar diterjemahkan dan diterima di kawasan Nusantara. Terjemahan dalam edisi Melayu ini menjadi salah satu buku langka yang pernah ada dalam siklus penerjemahan Max Havelaar di Hindia Belanda, Edisi Peringatan 150 Tahun, yang menjadi penanda penting perjalanan karya Multatuli di kancah sastra dunia,” tambahnya.
Pameran ini bukan hanya tentang sampul buku, melainkan tentang suara keadilan yang universal. Melalui sampul-sampul ini, kita bisa melihat bagaimana satu kisah dapat berbicara dengan banyak suara. Max Havelaar terus hidup, menembus batas bahasa dan budaya.
Sementara itu, Kepala Museum Multatuli Ubaidillah Muchtar Ubaidilah Muchtar sebagai Kepala Museum Multatuli menegaskan bahwa pameran ini bukan hanya tentang sampul buku, melainkan tentang suara keadilan yang universal. “Melalui sampul-sampul ini, kita bisa melihat bagaimana satu kisah dapat berbicara dengan banyak suara. Max Havelaar terus hidup, menembus batas bahasa dan budaya,” ungkapnya.
Pameran ini terbuka untuk umum dan gratis. Museum Multatuli mengundang seluruh masyarakat untuk hadir dan merasakan langsung kekayaan sejarah serta makna yang terkandung dalam perjalanan panjang Max Havelaar.
Editor: Abdul Rozak











