PANDEGLANG, RADARBANTEN.CO.ID – Sebagai langkah nyata menjaga keluhuran budaya lokal di tengah gempuran modernisasi, Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Pandeglang resmi mencanangkan program inovatif bertajuk Salasa Nyunda.
Program pelestarian kebudayaan ini ditargetkan untuk diterapkan secara menyeluruh di lingkungan sekolah mulai Tahun 2027 mendatang.
Langkah ini diambil sebagai respons strategis untuk memperkuat kembali penggunaan bahasa ibu (bahasa daerah) di kalangan generasi muda.
Disdikpora menilai, eksistensi bahasa Sunda di wilayah Pandeglang perlu diintervensi melalui kebijakan formal di lembaga pendidikan agar tidak tergerus zaman.
Kepala Disdikpora Kabupaten Pandeglang, Sutoto menegaskan, pentingnya menanamkan kecintaan terhadap bahasa daerah sejak dini.
“Bahasa daerah bukan sekadar alat komunikasi, melainkan cerminan identitas suatu masyarakat. Bahasa menunjukkan identitas bangsa,” katanya, Senin, 28 September 2026.
Oleh karena itu, penguatan bahasa daerah menjadi langkah nyata untuk membangun karakter generasi muda yang berakar kuat pada nilai tradisi.
“Sekaligus merawat keluhuran budaya bangsa agar tetap lestari,” katanya.
Kebijakan ini juga mendapatkan dukungan penuh dari jajaran eksekutif Pemerintah Kabupaten Pandeglang.
Asisten Daerah III Setda Pandeglang, TB Nandar Suptandar, menyatakan bahwa pemerintah daerah berkomitmen mengawal implementasi program ini.
“Bahwa bahasa Sunda adalah jati diri masyarakat Pandeglang yang wajib dihidupkan dalam interaksi sehari-hari. Termasuk dalam lingkungan akademis,” katanya.
Sebagai pondasi awalnya melalui ajang FTBI (Festival Tunas Bahasa Ibu).
Sebagai pondasi awal untuk mengukur potensi dan kesiapan para siswa sebelum program Salasa Nyunda resmi diwajibkan pada tahun 2027
“FTBI juga menjadi wadah pembinaan karakter, kreativitas, dan penggalian bakat sastra daerah,” katanya.












