Penulis : Prof. Dr. Hj. Eneng Muslihah, Ph.D.
PERUBAHAN teknologi bergerak semakin cepat. Kecerdasan buatan, digitalisasi, big data, otomatisasi, dan konektivitas global telah mengubah cara manusia belajar, bekerja, berkomunikasi, dan mengambil keputusan. Dunia pendidikan pun tidak bisa menghindar dari perubahan tersebut.
Bagi madrasah, pesantren, sekolah Islam, dan perguruan tinggi Islam, tantangannya menjadi lebih kompleks. Lembaga pendidikan tidak cukup hanya mempertahankan pola kepemimpinan lama. Pemimpin dituntut mampu membaca perubahan, memahami kebutuhan peserta didik, memanfaatkan teknologi, membangun jejaring, dan mengambil keputusan secara cepat.
Namun, ada satu hal yang tidak boleh hilang: nilai.
Kemampuan beradaptasi dengan teknologi tanpa landasan moral dapat membuat pendidikan terjebak pada pragmatisme. Sebaliknya, mempertahankan nilai tanpa kemampuan beradaptasi dapat membuat lembaga pendidikan tertinggal. Dari sinilah gagasan Responsive-Prophetic Leadership Model (RPLM) atau Model Kepemimpinan Responsif-Profetik menemukan relevansinya.
RPLM mencoba mempertemukan dua kekuatan: kemampuan merespons perubahan dengan cepat dan nilai-nilai kepemimpinan profetik Islam. Teknologi dan data digunakan untuk membantu pengambilan keputusan, tetapi keputusan tetap harus mempertimbangkan keadilan, kemanusiaan, tanggung jawab, dan kemaslahatan.
Dari Pemimpin Pengendali Menjadi Penghubung
Perjalanan teori kepemimpinan dapat dilihat sejalan dengan perubahan cara manusia belajar. Pada tahap awal, pembelajaran banyak dipahami sebagai perubahan perilaku melalui stimulus, respons, aturan, dan penguatan. Dalam organisasi, pendekatan ini tercermin dalam kepemimpinan yang menekankan disiplin, otoritas, dan kepatuhan.
Kemudian berkembang pendekatan yang lebih menekankan proses berpikir, hubungan, partisipasi, pemberdayaan, dan transformasi. Pemimpin tidak lagi sekadar menjadi pengendali, tetapi juga fasilitator dan penggerak perubahan.
Di era digital, muncul kebutuhan baru. Pengetahuan tidak lagi berada di tangan satu orang atau satu institusi. Pengetahuan tersebar dalam jaringan manusia, organisasi, teknologi, dan berbagai sumber informasi. Karena itu, pemimpin masa kini lebih tepat dipandang sebagai strategic node atau simpul strategis yang menghubungkan berbagai pengetahuan, orang, dan sumber daya.
Pemimpin tidak harus mengetahui semuanya. Yang lebih penting adalah mengetahui siapa yang memiliki pengetahuan, bagaimana menghubungkannya, dan bagaimana menggunakannya untuk mengambil keputusan yang tepat.
Responsif Sekaligus Profetik
Kepemimpinan responsif memiliki sejumlah ciri, yakni mampu membaca perubahan, memahami kebutuhan pemangku kepentingan, memanfaatkan teknologi dan jejaring pengetahuan, mengambil keputusan secara kolaboratif, serta mendistribusikan otoritas.
Namun, respons cepat saja tidak cukup.
Dalam perspektif Islam, kepemimpinan memiliki dimensi moral dan transendental. Keteladanan Nabi Muhammad SAW memberikan empat nilai utama: shiddiq atau kejujuran, amanah atau tanggung jawab, fathanah atau kecerdasan dan kebijaksanaan, serta tabligh atau kemampuan menyampaikan kebenaran dan membangun komunikasi.
Keempat nilai tersebut menjadi kompas moral bagi kepemimpinan yang responsif. Dengan demikian, pemimpin tidak sekadar bertanya, “Apa yang paling cepat dan efisien?” tetapi juga, “Apakah keputusan ini benar, adil, bermanfaat, dan membawa kemaslahatan?”
Inilah inti RPLM: adaptif terhadap perubahan, tetapi tidak kehilangan arah nilai.
Dua Inti Kepemimpinan
RPLM dibangun dengan dua inti yang saling menopang. Pertama, adaptive core, yaitu kemampuan beradaptasi, membangun jejaring, menggunakan teknologi dan data, mengambil keputusan secara kolaboratif, serta mendistribusikan pengetahuan dan kewenangan.
Kedua, ethical-transcendental core, yaitu integritas, amanah, kecerdasan, komunikasi, keteladanan, dan tanggung jawab kepada Allah SWT.
Keduanya tidak boleh dipisahkan. Adaptasi tanpa etika dapat berubah menjadi pragmatisme. Sebaliknya, nilai tanpa kemampuan beradaptasi berisiko melahirkan stagnasi.
Karena itu, pemimpin pendidikan Islam idealnya menjadi pemimpin yang adaptif sekaligus teladan. Ia mampu mengikuti perkembangan teknologi tanpa menjadi budak teknologi, menggunakan data tanpa mengabaikan hati nurani, serta mengejar efektivitas tanpa mengorbankan manusia.
Berbeda Sesuai Jenjang
Penerapan RPLM tentu tidak bisa diseragamkan.
Pada pendidikan dasar, kepemimpinan lebih menekankan keteladanan, perlindungan, kedisiplinan yang humanis, serta perhatian terhadap kebutuhan sosial dan emosional anak.
Pada pendidikan menengah, perhatian dapat diarahkan pada dialog, pembentukan karakter, partisipasi peserta didik, literasi digital, dan kemampuan menghadapi perubahan sosial.
Sementara itu, di perguruan tinggi Islam, kepemimpinan dapat lebih diarahkan pada inovasi, jejaring akademik, digitalisasi tata kelola, kolaborasi global, integrasi keilmuan, serta kebebasan akademik yang tetap beretika.
Dengan kata lain, tidak ada satu gaya kepemimpinan yang cocok untuk semua situasi. Pemimpin harus membaca konteks, karakter manusia yang dipimpinnya, tingkat kompleksitas organisasi, serta tantangan zamannya.
Teknologi sebagai Sarana, Manusia sebagai Tujuan
Era Revolusi Industri 4.0 dan perkembangan menuju Society 5.0 membawa pesan penting: teknologi seharusnya membantu manusia, bukan sebaliknya. Karena itu, digitalisasi pendidikan tidak boleh berhenti pada penggunaan aplikasi, perangkat pintar, atau kecerdasan buatan.
Pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah teknologi membuat pendidikan menjadi lebih manusiawi, adil, bermakna, dan bermanfaat?
RPLM menawarkan cara pandang bahwa kepemimpinan pendidikan Islam bukan sekadar soal managing, tetapi juga leading.
Pemimpin bukan hanya mengelola administrasi dan mencapai target, melainkan mengarahkan perubahan, membangun manusia, memberikan keteladanan, dan memastikan organisasi tetap berjalan menuju tujuan pendidikan yang bermakna.
Pada akhirnya, teknologi hanyalah sarana. Manusia dan kemaslahatan tetap menjadi orientasi. Di tengah dunia yang berubah semakin cepat, pendidikan Islam membutuhkan pemimpin yang tidak takut terhadap perubahan, tetapi juga tidak kehilangan kompas moral ketika menghadapinya.
Itulah semangat Responsive-Prophetic Leadership atau Kepemimpinan Responsif-Profetik: cepat membaca zaman, tepat merespons perubahan, dan tetap teguh menjaga nilai.
Wallahu a’lam bi al-shawab.












