PANDEGLANG – Untuk melestarikan habitat penyu, Balai Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) melepaskan 17 ekor tukik (anak penyu) di Pantai Cidaon, Kecamatan Sumur, Kabupaten Pandeglang, Sabtu (23/9) sore.
Wakil DPRD Kabupaten Pandeglang Erin Febriana dan Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Pandeglang Anwari Husnira turut melepaskan penyu-penyu tersebut dari bibir pantai hingga merangkak berenang ke lautan lepas Samudra Hindia.
Kepala Balai TNUK U Mamat Rahmat menyatakan di Ujung Kulon memiliki habitat penyu hijau dan sisit yang banyak mendarat di Pantai Selatan Cilanea. “Kami mulai ada penangkaran penyu hijau. Ini bukti konservasi bukan cuma badak dan banteng,” paparnya, Sabtu (23/9).
Dijelaskan Mamat, dengan melepas liarkan kembali ke alam, penyu bermigrasi ke mana-mana, ke lintas negara. Suatu saat nanti akan kembli ke Ujung Kulon, kemudian bertelur.
“Ada 17 individu anak penyu dilepaskan. Mudah-mudahan hidup dan besar kembali ke Ujung Kulon,” tuturnya.
Ia menduga, gangguan predator seperti biawak, babi hutan, dan semut merah dapat merusak keberlangsungan hidup penyu. Penyu yang bertelur, kata dia, dapat menghasilkan puluhan hingga seratus lebih telur. “Ini menjadi daya tarik wisata di Ujung Kulon ke depan,” ujarnya.
Wakil DPRR Kabupaten Pandeglang Erin Febriana mengapresiasi pelepasan tukik ke laut di TNUK.
“Wisata tukik ini menjadi daya tarik. Jadi disediakan tukiknya. wisatawan bisa ikut serta melepaskan anak penyu ke laut lepas,” tuturnya. (Anton Sutompul/antonsutompul1504@gmail.com).










