PAGEDANGAN – Fenomena tanah retak membuat puluhan warga Kampung Kadusirung RT 04, RW 01, Desa Kadusirung, Kecamatan Pagedangan, Kabupaten Tangerang was-was.
Peristiwa yang terjadi sore ini menyebabkan sebagian jalan sekitar desa terbelah. Tepat setelah hujan lebat mengguyur kawasan tersebut. Warga pun khawatir retakan ini berpotensi terjadinya bencana longsor.
Selasa (16/10) pagi, Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air (DBMSDA) Kabupaten Tangerang melalui Unit Pelayanan Teknis Jalan dan Jembatan Wilayah 1 bergerak dengan menerjunkan tim ke sana.
Kepala UPT Wilayah 1 Jalan dan Jembatan DBMSDA Kabupaten Tangerang Dedi Sukardi kepada Radar Banten mengatakan, dari hasil penelusurannya, retakan ini masih terbilang aman. Panjang retakan sekitar 62 meter dengan kedalaman yang bervariasi. ”Masih aman tapi kita tetap waspada. Pasalnya, kedalamannya tidak rata dari titik satu ke titik yang lain. Ada kedalaman sekitar 20 cm,30 cm dan ada yang mencapai 50 cm,” terangnya, kemarin.
Agar retakan ini tak melebar, DBMSDA melakukan upaya pengamanan. Seperti memasukkan pasir batu dan makadam di dalam retakan lalu ditutup oleh aspal hotmix. ”Sudah nyaris tertutup dengan baik, jadi warga tak perlu panik,” jelasnya.
Sementara Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tangerang Agus Suryana mengaku telah melayangkan surat kepada Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengenai fenomena ini. Pihaknya pun meminta warga untuk tenang. ”Kami sedang menunggu jawaban dari BMKG untuk memastikan apakah hal tersebut merupakan fenomena alam biasa atau awal terjadinya longsor,” terangnya.
Ketua RT 04 Maryadi mengatakan, hingga saat ini, baru satu rumah yang mengungsi karena kerusakan dapur dan sejumlah lantainya terbelah, ”Baru satu, dan sudah kami laporkan ke pemerintah daerah,” ujarnya.
Sementara para peneliti geologi mengungkapkan, fenomena seperti ini terjadi hampir di seluruh daerah di Indonesia. Dewan Penasehat Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Rovicky Dwi Putrohari mengatakan, sepintas retakan ini terjadi akibat pergerakan tanah awal longsor. ”Saya khawatir kalau retakan ini terjadinya di puncak atau bukit. Sehingga perlu dilihat juga apakah mengancam longsoran bawahnya atau tidak,” katanya.
Ia menyarankan, agar tanah yang retak tersebut untuk segera ditutup tanah. Ini dilakukan supaya tidak ada air yang masuk ke dalam tanah yang retak itu. ”Kalau lokasinya di tempat relatif di atas, mungkin gejala longsor. Tapi saya perlu data yang lainnya,” tandasnya.
Sementara Perekayasa Madya Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Imam Santosa menyatakan, fenomena ini umumnya terjadi setelah hujan lebat. Guna memastikan apakah akan berpotensi longsor, cukup dengan menancapkan di dua sisi dengan menggunakan bambu. ”Jika terjadi pergeseran, cukup ditutup dengan tanah liat untuk menghindari air masuk atau meresap ke dalam retakan,” tandasnya. (Mulyadi-Wahyu-Umam/RBG)










