Syekh Nawawi Albantani tercatat sebagai ulama Banten paling produktif. Hidupnya tawadu penuh dengan kesederhaan. Sederet karyanya menginspirasi sekaligus menerangi jalan pikiran ulama setelahnya.
DUNIA mengakui otoritas keilmuan Syekh Nawawi Albantani (selanjutnya ditulis Nawawi) pada berbagai ilmu keislaman. Ia ahli dalam bidang ilmu kalam, fikih, dan tasawuf sekaligus. Sederet gelar disematkan kepada Nawawi. Antara lain, sayyidu ‘ulama’i al-hijjaz, al-syeikh, al-faqih, al-mujtahid.
Kedalaman ilmunya didapatkan dari pendakian yang panjang. Awalnya, Nawawi belajar kepada ayahnya, Kiai Umar. Dari ayahnya itu, Nawawi belajar juga kepada Kiai Sahal Serang dan KH Yusuf Purwakarta. Hingga saat genap berusia 15 tahun, ia beranjak dari bumi Tanara untuk merantau ke Mekkah.
Di Tanah Suci, tak kurang 11 ulama besar membimbingnya. Mereka adalah Syekh Abdul Ghani Bima, Syekh Akhmad Khotib Sambas, Syekh Ahmad Zayd, Syekh Yusuf al-Sunbulaweni, dan Syekh Ahmad al-Nahrawi.
Lalu, Abdul Hamid al-Dighistani al-Shanawawi, Sayyid Abdullah, Salih Samawi, Syekh Ahmad Dimyati, Ahmad Zayni Dahlan, Muhammad Khatib Duma al-Hanbali, dan Sayyid Ahmad al-Marsafi al-Masri.
Terpaaan ulama-ulama masyhur itu membawanya menjadi ulama paling produktif. Kitab Marah Labid, menjadi karya tafsirnya paling fenomenal. Juga 40 kitab berbahasa arab ditulisnya. Tak kurang 22 kitab itu, masih menjadi literasi wajib di pondok pesantren (ponpes) di Indonesia. Dan, 11 di antaranya tercatat dalam 100 kitab paling banyak digunakan ponpes hingga sekarang. Produktivitas membawa namanya tercatat sebagai ulama paling berpengaruh sejak Syekh Yusuf al-Makassari.
Sejarawan Banten Mufti Ali menyebut, Nawawi sebagai mata rantai authoritative transmisi ilmu-ilmu keislaman tradisional dari ulama-ulama Timur Tengah.
Kemasyhuran tak membuatnya takabur. Nawawi tetap tawadu dalam hidupnya. Seorang orientalis Belanda Snouck Hurgronje, yang bertugas mengawasinya terkagum-kagum. Ulama besar yang fasih dan punya kedalaman pengetahuan hanya mengajar di rumah bukan di Masjidil Haram.
Penasehat khusus Gubernur Jenderal J.B van Heutsz itu, bermukim di seberang rumah Nawawi, di Suq al-Lail, Syi’ib Ali. Kurang lebih, 500 meter dari kompleks Masjidil Haram. Rumah yang juga menjadi kawah candradimuka lebih dari 200 murid-murid Nawawi.
Snouck pun menulis pertanyaan dan dalih jawaban ulama sekaliber Nawawi tak mengajar di Masjidil Haram. Padahal ulama yang fasih berbahasa arab dan menulis 40 kitab, lebih dari kata layak.
Laporan Snouck masa itu tersusun rapi dalam dokumen berjudul, ‘Mekka In The Latter Part of The 19th Century: Daily Life, Customs and Learning The Moeslims of the East Indian Archepelago.’ Snouck menulis, kesederhanaan pakaian dan penampilan luarnya tidak setara dengan penampilan para guru besar-guru besar bangsa arab.
Karena sifat tawadunya ini, Snouck mendengar pengakuan Nawawi. “Bahwa Beliau hanyalah debu di kaki para penuntut ilmu,” kata sejarawan Banten Mufti Ali, sebagaimana kesaksian Snouck dalam laporan yang diterbitkan Late E.J. Brill, Leyden pada 2006.
Ramainya pengajaran di rumah putra Kiai Umar dan Zubaedah itu juga terekam dalam catatan harian muridnya, Abdul Sattar al-Dihlawi. Ratusan muridnya bukan hanya santri dari Nusantara. Banyak pula ulama dari Nusantara turut berguru. Mendayuh bimbingan tingkat lanjut dari ulama yang digambarkan Snouck berperawakan kecil dan agak bungkuk.
Sifat tawadu membuat Nawawi sangat istimewa di mata para muridnya. Dengan peribahasa Snouck menulis, bila berjalan, bumi yang dipijak Nawawi layaknya buku raksasa yang sedang ia baca.
“Semua orang dari Nusantara mencium tangan dan menyalami beliau (Nawawi) penuh takzim,” kata Mufti yang merupakan doktor lulusan Leiden University Belanda ini.
Ulama dari bumi Tanara itu sungguh kharismatik. Murid-muridnya sangat mencintai dan menghormatinya. Tak jarang mengalir hadiah ke rumahnya. Namun, Nawawi memilih hidup sederhana dan cahaya kalamallah.
Sehari-hari, ia bisa menghabiskan berjam-jam mencurahkan buah pikirannya ke puluhan lembar kertas. Padahal, hanya menggunakan lampu teplok kecil yang sinarnya redup.
Istrinya pun berperan penting. Untuk menopang kebutuhan, juga hidangan murid-muridnya, sang istri menjalani bisnis kecil-kecilan. Bagi Nawawi, yang paling berharga adalah ilmu pengetahuan. Itu yang membuat namanya abadi dan harum hingga sekarang.
Di kampung kelahiran, ilmu Nawawi masih menerangi jalan pikiran umat. Bahkan meneduhkan generasi sesudahnya. Keteduhan itu terasa di Masjid Ponpes di Tanara, yang memakai nama An-Nawawi. Masjid yang tempat Radar Banten menyempatkan salat ashar pada Senin (20/5).
Kalam ilahi bergema dari santri-santri usia remaja sebelum dan seusai salat. Senandung syair kitab Nawawi, seperti Tanqih Sulam al-Munajat, Nur al-Zalam ikut membersamai.
“Setiap sore jelang buka puasa (Ramadan) baca kitab,” aku Muhammad Rizki Akbar, Santri An-Nawawi, yang berasal dari Tangerang.
Remaja berusia 16 tahun itu sudah empat tahun mondok. Kini level belanja kitabnya sudah beranjak ke level dua. “Jadwal sesudah taraweh sampai jam sebelas (malam-red), saya belajar muhtarol hadist,” aku Rizki yang sudah kelas 1 Aliyah.
Senja masih cukup merona. Dari beranda ponpes di Kampung Tanara, Radar Banten melangkah ke arah barat. Rencana itu atas usulan Ustad Alwan, Pengurus Ponpes An-Nawawi. “Saya tunjukan maulid (rumah kelahiran Syekh Nawawi-red),” ujarnya.
Tak butuh waktu lama untuk sampai di lokasi maulid. Jika dihitung langkah kaki, tak lebih dari seratus langkah. Melintasi jalan setapak yang seringkali berpapasan dengan santri, juga warga sekitar.
Bangunan maulid itu tidak sebesar nama Syekh Nawawi. Perkiraannya hanya seluas 6×10 meter. Dua tiang menyanggah bagian depan bangunan berwarna putih dengan hijau.
Bangunannya tepat bersebelahan dengan Masjid Agung Tanara, yang lebih dikenal Menara Buntung. Masjid itu konon dibangun oleh Sultan Maulana Hasanuddin. Juga Yayasan Pendidikan Dzuriyyat An-Nawawi Tanara.
“Ya ada saja yang ziarah. Namanya juga maulid, tempat kelahiran banyak yang bilang dengan petilasan,” seru Ustad Alwan yang menyeka guguran daun dari pohon yang berdiri tepat di depan bangunan.
Sejurus kemudian, Alwan mengajak Radar Banten ke Kampung Pesisir, Desa Pedaleman, Kecamatan Tanara. Kampung itu dikenal sebagai kampung kediaman dan Masjid Jami An-Nawawi yang dibangun Nawawi dengan bale bambu.
Dari Kampung Tanara, jaraknya tak terlampau jauh. Dilihat dari aplikasi map pada gawai, hanya berjarak satu kilometer. Jarak tempuh normalnya dua hingga lima menit.
Tepat di mulud gang kampung, gapura sederhana berwarnai hijau menyambut. Terpampang tulisan ‘Selamat Datang di Kampung Inilah Syekh Nawawi Mencurahkan Inspirasinya’. Pada penyangga tiang kiri, bertulis Bait Syekh Nawawi. Sementara penyangga tiang kanan, bertulis Masjid Jami An-Nawawi.
Tak lebih dari seratus langkah sampailah di dua bangunan yang berhadap-hadapan. Bangunan itu tak menampakkan kemegahan fisik. Di dalam ruangan bait yang berukuran 6×8 meter tersimpan dengan rapi kitab-kitab Nawawi. Juga ulama-ulama tersohor lainnya. Sedangkan masjid, sehari-hari digunakan untuk ibadah warga.
Tiap pekan hari Selasa, warga mengaji kitab-kitab Syekh Nawawi. Setiap tahun, ratusan hingga ribuan orang datang ke kampung itu untuk mengikuti haul Syekh Nawawi yang biasanya dihelat pada Jumat terakhir bulan Syawal.
“Dari sumbangan umat itulah kami merawat bait dan masjid yang diwariskan dari Syekh Nawawi,” kata Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Jami An-Nawawi, H Husni. (Ken Supriyoni)









