Ibarat peribahasa mati satu tumbuh seribu, seperti yang dialami Jono (47), nama samaran, yang termasuk laki-laki paling beruntung. Dihina dan diceraikan istri, sebut saja Titi (40), gara-gara status Jono sebagai marbot masjid, justru mendapat pengganti yang lebih baik. Selain cantik, istri baru Jono, sebut saja Siti, juga termasuk wanita solehah. Maklum, masih kerabat ustad.
Jono ditemui Radar Banten di salah satu masjid wilayah Kelurahan Jombang, Cilegon. Jono merupakan marbot di masjid itu. Ia menyambut kedatangan wartawan dengan ramah. Meski sedang sibuk membersihkan masjid, mulai dari menyapu sampai mengepel lantai, Jono tak menolak berbincang-bincang seputar pengalamannya yang sempat gagal berumah tangga. Penasaran dengan kisah Jono? Simak tuk ceritanya.
Jono awalnya bekerja sebagai karyawan pabrik. Hidupnya jauh dari kata ibadah, malah sering main malam, seperti ke diskotik dan bergadang. Bertemu dengan Titi juga dari hasil nongkrong-nongkrong setiap malam di kafe. Kehidupannya dihabiskan untuk berhura-hura. Jono memang dilahirkan dari keluarga yang jauh dari agama. Dulu kedua orangtuanya bekerja sebagai pelayan rumah makan. Karena faktor ekonomi, kedua orangtua Jono bercerai. Sejak itu, Jono tinggal bersama ibunya dan merasa kurang kasih sayang. “Mabuk-mabukkan, bolos sekolah, pokoknya hidup saya enggak teratur,” kenangnya.
Setelah lulus SMA dan mendapat pekerjaan di pabrik, kehidupan Jono semakin tak terkendali. Setiap malam, ia habiskan waktu untuk menongkrong di tempat hiburan malam. Uang hasil kerjanya tak pernah ditabung, tapi habis untuk poya-poya dan hura-hura. “Namanya juga anak muda,” ujarnya. Iya anak muda tapi bikin madesu!
Suatu hari, Jono yang sedang asyik nongkrong di kafe dikenalkan dengan Titi yang merupakan pelayan kafe oleh temannya. Jono sempat kegeeran karena semenjak ada Titi merasa ada yang memperhatikan. Meski usia Jono lebih tua, tetapi sifat Titi lebih menunjukkan kedewasaan. Rasa solidaritas Titi juga tinggi. meski berstatus pelayan, Titi tak canggung dan gampang akrab dengan pelanggannya. “Dia pelayan senior, orangnya asik dan sering kasih perhatian lebih ke saya,” aku Jono kepedean.
Karena sering bertemu dan semakin akrab, Jono diam-diam merasakan jatuh cinta terhadap Titi. Dua bulan berteman dengan Titi, Jono memberanikan diri menyatakan perasaannya saat malam Minggu setelah kafe tutup. Jono sempat kebingungan karena melihat Titi ketawa karena menganggap omongan Jono bercanda. “Besoknya saya tanya lagi kepastiannya, eh dia malah nolak saya,” kesalnya.
Meratapi penolakan, Jono merasakan kegalauan. Dia jadi sering mabuk-mabukkan. Pekerjaannya juga terbengkalai hingga diberikan surat peringatan oleh manajemen karena sering telat masuk dan sering izin. Dua bulan kemudian, seperti ditakdirkan untuk berjodoh, Titi menelepon bahwa dia siap menerima Jono dengan catatan langsung menikah. “Dia sudah enggak punya bapak dan hidup sama ibunya. Ya sudah, saya datengin ibunya minta restu,” ujarnya.
Tak lama, keduanya melangsungkan pernikahan dengan pesta sederhana. Mengawali rumah tangga sementara mereka tinggal di kontrakan tak jauh dari tempat kerja. Jono sibuk bekerja, begitu pula dengan Titi yang bekerja sebagai pelayan kafe. “Saya sebenarnya minta istri berhenti kerja, tapi dia enggak mau, katanya sih sudah nyaman,” katanya.
Keinginan Jono supaya Titi berhenti kerja karena cemburu melihat istrinya dekat-dekat dengan pelanggan yang mayoritas laki-laki dewasa. Karena itu, rumah tangga mereka sering diwarnai keributan. Emosi Jono semakin meluap karena Titi tak mau buru-buru mempunyai anak bersamanya. “Katanya dia masih pengen menikmati hidup dulu. Kalau gitu, kenapa dulu ngajakin nikah,” kesalnya.
Karena sibuk bekerja dan sering ribut dengan Titi, Jono sampai tak sempat menengok ibunya yang sakit. Sampai akhirnya ibunya meninggal dan Jono hanya bisa meratapi penyesalan. “Saya merasa jadi anak paling berdosa,” sesalnya.
Sejak kepergian ibunya, Jono mendapat nasehat dari seorang ustad di kampungnya agar terus mendoakan alamarhumah dan rajin beribadah. Sejak itu, Jono jadi sering ke masjid. Singkat cerita, Jono habis kontrak masa kerja dan menjadi seorang pengangguran. Beruntung Jono kenal dengan seorang ustad yang langsung memintanya menjadi marbot masjid yang dikelolanya. Sayangnya, keputusan Jono itu justru membuat Titi geram. “Dia enggak terima saya jadi marbot,” katanya. Kok gitu sih!
Sampai suatu hari, Titi menceraikan Jono yang gara-gara statusnya seorang marbot masjid. Namun, dalam kondisi tak mengenakan itu tampaknya dewi fortuna berpihak kepada Jono. Ustad pengelola masjid yang mengetahui Jono ditinggalkan istrinya, mengenalkan seorang perempuan yang memang sedang mencari calon suami kepada Jono. Perempuan itu tak lain masih kerabat sang ustad. Bak ketiban durian runtuh. Diceraikan Titi, Jono malah mendapat pengganti istri yang jauh lebih baik dan lebih cantik, selain tahu agama. Sebulan kemudian, mereka menikah. Kini Jono hidup bahagia bersama istri barunya. “Alhamdulillah istri lagi hamil, minta doanya semoga lancar,” pintanya. Amin. (mg06/zai)











