SERANG – Tingkat penghunian kamar (TPK) hotel di Banten satu bulan ke depan diprediksi mengalami penurunan. Hal ini disebabkan oleh pandemi virus corona atau Covid-19.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Banten Adhi Wiriana mengatakan, selain penurunan TPK, penurunan juga diperkirakan terjadi pada rata-rata lama menginap tamu (RLMT). Prediksi itu berasal dari penurunan TPK Maret ini.
Namun, TPK hotel berbintang di Banten pada Februari sempat naik. BPS menyebut TPK mencapai 51,14 persen atau naik 2,09 poin dibanding bulan sebelumnya, yaitu sebesar 49,05 persen.
“Sementara dibandingkan bulan yang sama tahun lalu, turun 2,17 poin,” ujar Adhi, Jumat (24/4).
Dikatakan Adhi, RLMT gabungan baik asing dan Indonesia pada hotel berbintang selama Februari mencapai 1,24 hari atau turun 0,12 poin dibandingkan bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 1,36 hari. Apabila dibandingkan bulan yang sama tahun lalu, RLMT gabungan turun sebesar 0,16 poin.
Diakui Adhi, perkembangan TPK selama setahun terakhir memperlihatkan kondisi yang masih fluktuatif. “Pada bulan Februari 2020 mengalami kenaikan yang diduga disebabkan oleh meningkatnya kegiatan MICE awal tahun. Selain itu, masih dimungkinkan juga penyebab lain yang berkaitan dengan naiknya TPK Februari,” ujarnya.
Sementara Plt Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Provinsi Banten Tabrani mengatakan, mayoritas para pelaku pariwisata di Banten membatasi kegiatan sesuai imbauan dari pemerintah. Bahkan, ia memprediksi 70 persen hotel yang ada di Banten sudah tak ada yang menginap. “Meskipun mereka tetap buka,” ujarnya.
Kata dia, pihaknya memang melarang adanya kegiatan yang menghadirkan kerumunan massa baik di dalam maupun luar ruangan. Kalaupun masih ada tempat wisata yang beroperasi, maka harus memenuhi standar protokol kesehatan.
Tabrani mengusulkan agar tenaga kerja yang dirumahkan lantaran banyaknya usaha industri wisata yang tutup, dapat menerima bantuan jaring pengaman sosial (JPS) yang digelontorkan Pemprov. (nna/nda)









