SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Setiap tanggal 17 Ramadan, umat Islam memperingati malam Nuzulul Qur’an. Yaitu malam turunnya wahyu Al Qur’an pertama kali kepada Nabi Muhammad SAW di Gua Hira. Ketika itu Nabi berusia 40 tahun. Arti Nuzulul Qur’an sendiri adalah peristiwa turunnya Al Qur’an kepada Nabi Muhammad SAW.
Di Masjid Nurul Musthofa, Permata Safira, Kota Serang, peringatan Nuzulul Qur’an menghadirkan penceramah Dr KH Syamsuddin M.Pd, Senin, 18 April 2022 malam.
Dalam ceramahnya, Dr Syamsuddin menyoroti dua masalah. Pertama, soal kondisi umat Islam Indonesia yang cukup memprihatinkan. Kedua adalah pentingnya umat Islam belajar serta menguasai ilmu dan teknologi agar bisa mengikuti perkembangan zaman.
Terkait tema Nuzulul Qur’an, Dr Syamsuddin meminta umat Islam untuk mengambil hikmah, mengevaluasi diri serta memperbaiki diri. “Jadi kalo kita mau bangkit, ya harus memperbaiki diri. Terus belajar menguasai ilmu dan teknologi,” harapnya.
Syamsuddin merasa aneh dan prihatin dengan kondisi Islam yang “dibuat” terpuruk saat ini. “Yang aneh adalah yang benci Islam adalah orang Islam sendiri,” kata Syamsuddin yang terpilih sebagai Ketua PW Muhammadiyah akhir 2015 ini.
Tapi, lanjutnya, kendati umat Islam diserang, di-bully, dijelek-jelekkan, banyak tokoh dunia yang mendapat hidayah masuk agama Islam. “Jadi hidayah Allah itu akan terus mengalir, tanpa bisa dihambat,” lanjutnya.
JANGAN ALERGI TEKNOLOGI
Terkait dengan munculnya ilmu-ilmu dan teknologi baru, umat Islam diminta untuk tidak alergi. Karena ilmu pengetahui itu terus berkembang. Sehingga harus dipelajari dan dikuasai.

“Karena terus berkembang, maka ilmu itu harus dipelajari, harus diikuti. Jangan sebentar-sebentar mengharamkan ilmu. Jangan sebentar-sebentar mengkafirkan ilmu. Ilmu itu tidak ada yang kafir. Kalo ada yang kafir itu yang mempelajari ilmu,” lanjut Syamsuddin yang selalu menyelipkan jargon-jargon segar yang membuat jamaah, baik bapak-bapak maupun ibu-ibu terhibur gembira.
Oleh karenanya, ia mewanti-wanti agar umat muslim tidak membenturkan antara ilmu dengan agama. Justru ilmu dan teknologi itu yang harus diikuti.
Ia kemudian mencontohkan ilmu terapan yang sudah berkembang pesat di Jepang dan Korea. Di Jepang, katanya, ilmu teknologi sudah sedemikian maju. Jepang sudah bisa membuat boneka yang mirip manusia.
Sebelumnya, dalam sambutannya Ketua DKM Masjid Nurul Musthofa Ustadz Fahrurozi mengatakan selama Ramadan ini jamaah masjid berusaha mengamalkan Islam dengan baik dan benar. “Termasuk imam shalatnya selalu upgrade untuk memperbaiki bacaan Al Qur’an,” katanya.
Selain itu, program Masjid Nurul Musthofa saat ini difokuskan pada dua aspek. Yaitu aspek ritual dan aspek sosial.
Aspek ritual ditekankan untuk memperdalam Al Qur’an. Dimana banyak warga seputaran Kota Serang yang belajar Al Qur’an ke Masjid Nurul Musthofa. “Jadi kita berusaha terus memakmurkan masjid dengan belajar Al Qur’an. Setiap hari selama Ramadan ada sekitar 200 an ibu-ibu yang belajar Al Qur’an disini,” lanjut Fahrurozi.
Sementara aspek sosialnya ditunjukkan dengan kepedulian terhadap warga sekitar yang kurang mampu.
Penulis: M Widodo











