SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Harga komoditas telur ayam saat ini tengah mengalami kenaikan, bahkan harga dipelosok daerah Kabupaten Lebak, Banten harganya sudah mencapai Rp40 ribu per kilogram.
Telur sendiri diketahui merupakan komoditas unggulan yang digemari oleh masyarakat khusus ekonomi rendah. Sebab, telur mempunyai kandungan gizi yang kaya akan manfaat.
Telur ini juga kini menjadi senjata dalam mengatasi persoalan stunting atau kurang gizi bagi anak-anak.
Kepala Perwakilan BKKBN Banten, Rusman Efendi mengakui kekhawatiran atas kenaikan harga telur itu terhadap angka stunting di Banten.
“Pengaruhnya itu mungkin ada, tapi kecil. Karena kan banyak yang bisa mengintervensinya, misalnya makanan itu kan yang bergizi sekarang tidak mesti mahal tapi murah,” kata Efendi, Jumat 26 Mei 2023.
Efendi mengatakan, banyak pilihan yang bisa menggantikan telur seperti ikan dan sayur-sayuran. Katanya, masyarakat bisa memanfaatkan perkarangan rumah untuk membuat kolam budidaya ikan lele.
“Makanan itu kan yang bergizi sekarang tidak mesti mahal, tapi murah dan banyak pilihan termasuk bagaimanakah sekarang banyak yang sudah buat kolam-kolam ikan lele. Nah itu bisa menggantinya,” katanya.
Selain ikan lele, masyarakat juga bisa memanfaatkan sayur-sayuran yang biasanya digunakan sebagai obat tradisional seperti daun kelor.
“Jadi banyak sayur-sayuran yang murah-murah seperti daun kelor. Daun ini banyak nutrisi nya, yang bisa dijadikan lauk yang sehat untuk dikonsumsi,” imbuhnya.
Diberitakan sebelumnya, Kepala Dinas Ketahanan Pangan (Ketapang) Provinsi Banten, Aan Muawanah mengungkapkan, alasan mengapa harga telur maupun ayam ras menjadi melonjak naik.
Menurutnya, kenaikan harga dipicu oleh suply demand, di mana permintaan melebihi dari ketersediaan. “Masih dalam suasana pasca lebaran yang biasanya harga telur naik di H+ 21 – H+27 karena peralihan pola konsumsi pasca lebaran, selain itu ada sedikit kenaikan harga jagung di beberapa daerah walaupun tidak terlalu signifikan,” ucapnya kepada Radar Banten, Senin 22 Mei 2023.
Selain itu, kenaikan harga juga dipicu oleh faktor tahun politik dan juga program Pemerintah dadakan. Hal itu menggeser ketersediaan telur yang tadinya untuk konsumen dialihkan untuk ke bantuan untuk masyarakat yang membutuhkan.
“Asumsi yang lain juga karena sudah dimulainya masa masa politik sehingga ada peningkatan pembagian nasi bungkus atau nasi kotak yang salah satu menunya telur. Kenaikan harga di Banten masih relatif terkendali dibandingkan Provinsi lain yang sudah di harga Rp38.000 sedangkan rata-rata di Banten Rp31.500,” jelasnya.
Dikatakannya, untuk menstabilkan harga telur di pasaran, pihaknya akan memetakan harga telur di tiap Kabupaten dan Kota di Banten. Daerah dengan harga tinggi akan menjadi sasaran operasi pasar.
“Daerah mana yang harganya relatif tinggi dan bertahan di harga tinggi tersebut maka perlu dilakukan operasi pasar khusus telur, begitupun gerakan pangan murah yang menyusur perumahan atau rumah tangga yang mengalami kesulitan dalam mengakses pangan terutama telur. Operasi pasar juga melibatkan BUMD,” tuturnya.
“Kita juga akan melakukan pemantauan ketersediaan di produsen terutama di peternakan secara langsung,” sambungnya.
Reporter: Yusuf Permana
Editor: Aditya











