PANDEGLANG, RADARBANTEN.CO.ID – Warga Kampung Susukan, Desa Sukarame, Kecamatan Carita, Kabupaten Pandeglang menggelar acara Saba Leuweung di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Carita.
Saba Leuweung itu adalah sebuah ucapan rasa bersyukur warga sekitar Tahura Carita atas melimpahnya hasil bumi.
Ketua Komunitas Peduli Pariwisata Carita (KPPC) Franky Supriadi mengatakan, warga Kampung Susukan, Desa Sukarame, Kecamatan Carita menyelenggarakan kegiatan Saba Leuweung.
“Saba Leweung dilaksanakan di kawasan Tahura Carita. Ini merupakan yang pertama pasca pandemi Covid -19,” katanya, Rabu, 9 April 2023.
Franky menjelaskan, Saba Leweung sebetulnya bagian rasa syukur atas melimpahnya hasil bumi. KPPC sendiri sempat menyelenggarakannya pada tahun 2019.
“Karena Covid -19 di tahun berikutnya tidak dilaksanakan. Nah baru di tahun 2023 ini kembali digelar namun kali ini pelaksananya masyarakat dan suport KPPC,” katanya.
Saba Leuweung ini, diungkapkan Franky, menjadi event tahunan dan tahun 2024 akan kembali digelar melibatkan masyarakat tujuh desa di sekitar Tahura.
“Untuk di 2024 nanti itu All Out KPPC yang melaksanakan dengan Tahura Banten. Dengan beberapa stakeholder di Carita nah kepengen saya ada campur tangan dari pemerintah daerah juga,” katanya.
Lebih lanjut Franky menjelaskan, kalau Saba Leuweung diselenggarakan selain sebagai bentuk rasa syukur tetapi juga mengenalkan arti hutan, jenis pohon, manfaat pohon, dan lainnya. Serta pengenalan tentang ekosistem tentang hewan – hewan ada di kawasan Tahura.
“Di Tahura itu ada 15 endemik yang hewan itu tidak bisa dijumpai di provinsi lain. Cuman ada di Tahura, salah satu contoh itu adalah burung Paok, dia memiliki bulu empat sampai lima warna indah,” katanya.
Selain itu juga, sebagai bentuk edukasi dan sebagainya. Jadi intinya Saba Leuweung itu ada sebuah ucapan rasa bersyukur atas melimpahnya hasil bumi.
“Bahwa masyarakat, khususnya petani itu melakukan sebuah sujud syukur terhadap Tuhan Maha Esa atas melimpahnya hasil bumi. Misal pete, cengkeh, durian, dan lain sebagainya. Nah konsep tahun 2024 nanti Saba Leuweung itu karena ada Tahura diapit oleh 7 desa, nah tiap desa itu bercocok tanam di hutan,” katanya.
Nanti, pada Saba Leuweung itu seluruh desa yang dia mata pencahariannya di hutan itu dia memberikan hasil bumi kepada provinsi Banten lewat Tahura.
“Rencana kita estimasi sekitar 2-3 ribu orang tahun 2024 itu. Saba Leweung ini tentang pengenalan alam , pengenalan tentang tumbuhan, pengenalan tentang konservasi, pengenalan tentang hutan dan rasa sujud syukur masyarakat terhadap penciptaNya yang sudah memberikan hasil swasembada terhadap holtikulturanya,” katanya.
Reporter : Purnama Irawan
Editor: Aas Arbi











