SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Serang baru menerima laporan krisis air bersih dari delapan desa yang tersebar di empat kecamatan di Kabupaten Serang.
Kedelapan desa tersebut ialah Desa Cerukcuk di Kecamatan Tanara, Desa Panyaungan Jaya, Cemplang, dan Citaman di Kecamatan Ciomas, Desa Wanayasa, Domas, dan Kelapian di Kecamatan Pontang, dan Desa Susukan di Kecamatan Tirtayasa.
Koordinator Sub-Bidang Bantuan dan Perbaikan Darurat pada BPBD Kabupaten Serang Muhamad Samsudin mengatakan, berdasarkan data per tanggal 22 Agustus 2023, sebanyak 8 desa yang telah mengajukan permohonan bantuan untuk suplai air bersih.
“Sementara yang sudah mengajukan permohonan untuk dilakukan pendistribusian air bersih sebanyak 8 desa. Ini per tanggal 22 Agustus, yang terbaru dari KNPI Tirtayasa belum kita update,” katanya di ruangannya, Jumat, 25 Agustus 2023.
Ia mengatakan jika baru mendapatkan laporan dari KNPI Kecamatan Tirtayasa tersebut baru hari ini sehingga belum dapat langsung dimasukkan ke data usulan. “Belum kita update, meminta distribusi untuk semua desa yang ada di Kecamatan Tirtayasa,” imbuhnya.
Saat ini pihaknya bekerja sama dengan BPBD Provinsi Banten, Palang Merah Indonesia Provinsi Banten untuk memberikan bantuan suplai air bersih untuk masyarakat.
“Sudah menyalurkan air bersih ke wilayah-wilayah yang membutuhkan suplai air bersih yang mengalami dampak kekeringan,” jelasnya.
Ia mengatakan, pihaknya memiliki keterbatasan armada untuk melakukan pendistribusian air bersih kepada masyarakat. Apalagi wilayah kabupaten yang sangat luas dan banyaknya desa yang membutuhkan suplai air bersih.
“Karena kan dalam satu desa membutuhkan setidaknya empat tangki air bersih itu idealnya. Tetapi di kita cuman ada 7 armada baik di BPBD Kabupaten Serang, Provinsi dan PMI jadi sangat kekurangan. Kalau ada 20 armada baru bisa,” jelasnya
Ia berharap kepada masyarakat untuk bijak dalam menggunakan air pada saat musim kemarau karena perkiraan sementara musim kemarau akan berlangsung hingga bulan Oktober.
“Agar bisa lebih menghemat dalam pengunaan air dikhawatirkan dampak kemarau berkepanjangan,” pungkasnya. (*)
Reporter: Ahmad Rizal Ramdhani
Editor : Aas Arbi











