PANDEGLANG,RADARBANTEN.CO.ID-Gunung Karang Pandeglang menyimpan potensi komoditi yang menjanjikan. Terutama kopi Lawang Taji Gunung Karang. Namun sayang, petani menghadapi kendala dalam produksi dan pemasaran kopi.
Perwakilan Kelompok Tani Kopi Citaman Lawang Taji Gunung Karang Beni Badaruzaman, mengungkapkan keterbatasan pasokan kopi. Untuk mengatasi masalah ini, mereka telah secara swadaya melakukan penanaman kembali.
“Kami membina 8 petani kopi. Upaya penanaman kembali ini melibatkan kerjasama dengan kafe lokal. Keuntungannya digunakan untuk pengembangan pembibitan dan perkebunan kopi,” terang Beni, Senin 25 September 2023.
Selain itu, Beni juga menyoroti pentingnya dukungan dari pemerintah setempat. Baik di tingkat kabupaten maupun provinsi, agar potensi kopi Lawang Taji Gunung Karang dapat dimaksimalkan.
“Potensi kopinya sudah ada, namun untuk mengatasi masalah pasokan, perlu ada investasi lebih besar di sektor hulu. Semua ini dapat terwujud jika ada dukungan yang kuat,” tambahnya.
Beni mengajak semua pihak untuk bersatu demi mendukung produksi kopi berkualitas ini. Sehingga potensi ekonomi di daerah tersebut dapat tumbuh secara signifikan.
“Kami tidak meminta bantuan, tapi kami berharap agar pemerintah dan semua pihak melihat potensi ini,” ujarnya.
Beni juga menyampaikan bahwa saat menghadiri rapat bersama dinas pariwisata, ia baru menyadari bahwa Banten membutuhkan 160 ton kopi setiap tahunnya.
“Kalau mau ngomong Pandeglang berapa ton Lebak berapa ton setelah dikumpul-kumpul hanya 30 ton sisanya dari luar, nah itukan potensi besar. Pemerintah punya peran memperkuat kopi di Gunung Karang,” pungkasnya.
Ia menambahkan, untuk pemasaran ini pihaknya memasarkan kopi yang sudah hasil roastingan dengan dijual Rp 100 ribu per kilogramnya.
“Kita hasil roastingan dijual Rp 100 ribu 1 kilogramnya, untuk pemasaran jangan khawatir kopi Pandeglang enggak kalah dengan yang lain terbukti dengan beberapa kali mengikuti kompetisi,” tandasnya. (*)
Reporter: Moch Madani Prasetia
Editor: Agung S Pambudi











