CILEGON,RADARBANTEN.CO.ID-Koalisi Pilpres 2024 telah masuk babak baru.
Koalisi Pilpres telah diumumkan untuk tiga pasangan capres dan cawapres.
Koalisi Indonesia Maju (KIM) yang mengusung Prabowo-Gibran diisi oleh Partai Gerindra, Partai Golkar, Partai PAN, Partai Demokrat, PBB, Partai Gelora, Partai Garuda, Partai Prima, dan PSI.
Kemudian, koalisi Ganjar-Mahfud yaitu Partai PDIP, PPP, Perindo, dan Partai Hanura.
Koalisi terakhir adalah koalisi Anis-Cak Imin yang terdiri dari Partai NasDem, PKB, dan PKS.
Koalisi di level pusat itu pun dinilai bisa memengaruhi koalisi yang sudah terjadi pada Pemilu 2019 lalu di tingkat daerah.
Di Kota Cilegon sendiri, menurut Pengamat Politik dari Lembaga Kajian Publik The Sultan Center, Edi M Abduh koalisi di level pusat mempertajam isu pecah kongsi koalisi di Kota Cilegon.
Diketahui, Walikota Cilegon Helldy Agustian dan Wakil Walikota Cilegon Sanuji Pentamarta diusung oleh Partai Berkarya dan PKS.
Kemudian, seiring Partai Berkarya tidak masuk dalam jajaran partai peserta Pemilu, Helldy pun pindah ke Gerindra.
Di koalisi Pilpres tahun ini, Gerindra dan PKS berada di kubu berbeda dalam mengusung presiden.
Sebelum perbedaan keputusan partai dalam mengusung pilpres di level pusat, hubungan antara Helldy dan Sanuji di Kota Cilegon sudah panas.
Keduanya terlihat memiliki visi yang berbeda dan tidak beriringan satu sama lain.
“Awalnya sudah ada sebab ketidakharmonisan C1 dan C2, ditambah Pilpres yang berebda paslonnya, itu jelas akan mempengaruhi. Jelas akan meruncing kondisinya (perpecahan Helldy dan Sanuji,” papar Edi, Rabu 25 Oktober 2023.
Namun menurut Edi, bisa jadi koalisi antara Pilpres dan Pilkada berbeda, dan hal itu hal yang lumrah mengingat kultur setiap daerah berbeda-beda.
Jika koalisi Pilpres berlanjut di Pilkada, justru menurut Edi sangat menarik jika hal tersebut terjadi.
Karena diketahui saat ini Golkar merupakan partai oposisi di Kota Cilegon dan lawan politik kepala daerah saat ini pada Pilkada 2020.
Editor : Merwanda











