SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Pemerintah Provinsi Banten melalui Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Banten mencatat realisasi investasi di Provinsi Banten, per September 2023, sudah mencapai Rp 78 triliun. Realisasi investasi itu terus melejit setiap tahunnya.
Namun, ada fakta menarik bahwa realisasi investasi yang terus melejit itu tidak sejalan dengan angka pengangguran di Banten.
Badan Pusat Statistik (BPS) merilis tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Banten merupakan yang tertinggi se-Indonesia. TPT Banten pada periode Agustus 2023 sebesar 7,52 persen.
Angka tersebut membuat Banten menjadi provinsi dengan TPT tertinggi se-Indonesia. Disusul oleh Jawa Barat sebesar 7,44 persen, dan Kepulauan Riau 6,80 persen.
Sedangkan, TPT rata-rata nasional yakni 5,32 persen.
Menanggapi hal itu, Penjabat (Pj) Sekretaris Daerah (Sekda) Banten, Virgojanti, menyebut bahwa angka pengangguran di Banten setiap tahun mengalami penurunan.
“Kita kalau dari nasional memang sudah berada di lima besar. Tapi dari tahun ke tahun kita menunjukkan penurunan,” kata Virgojanti saat ditemui usai menggelar ekspose realisasi investasi triwullan ke-III pada Selasa, 7 November 2023.
Virgo pun mengklaim bahwa jumlah pengangguran di Banten masih di bawah rata-rata nasional.
“Kita di tahun sebelumnya, 2021, itu kan sampai delapan persen, tapi (sekarang) kita sudah tujuh persen. Kalau pasca pandemi kemarin kan memang kita banyak. Kalau nasional kan secara keseluruhan rata-rata nasional, tapi kita masih berada di bawah rata-rata nasional,” ujarnya.
Virgo pun mengaku heran dengan hasil survei BPS tentang angka pengangguran di Banten. Ia mempertanyakan alat ukur dari BPS itu.
“Namun sekarang ini, mungkin BPS ini perlu menghitung lagi orang kelihatan enggak kerja, tapi dia punya aktivitas. Sekarang kan banyak kerja freelance,” ucapnya.
Ia menyebut bahwa seseorang yang tidak bekerja di kantor dan hanya menjalani usaha atau menjadi seorang freelancer tidak bisa disebut sebagai pengangguran.
“Ini yang perlu kita bahas, apakah yang kerja itu harus berangkat dari rumah ke kantor? Dari rumah ke pabrik? Orang di rumah duitnya banyak ya ngapain juga? Kalau memang kita sudah passive income ngapain capek-capek,” ucapnya.
“Mungkin kayaknya dengan era transformasi seperti saat ini, itu perlu kita lihat kembali kriteria orang nganggur itu apa,” sambungnya.
Pemprov Banten sendiri terus melakukan upaya untuk membuka lapangan pekerjaan untuk masyarakat Banten. Salah satunya dengan membuka keran investasi di Banten.
Ia menuturkan, berdasarkan data realisasi investasi dari Januari hingga September 2023, realisasi investasi di Banten sudah mencapai Rp 78 triliun.
“Jumlah realisasi investasi itu telah membuka lapangan pekerjaan dengan menyerap 94.995 orang,” pungkasnya. (*)
Reporter : Yusuf Permana
Editor: Agus Priwandono











