TANGSEL, RADARBANTEN.CO.ID – Anemia atau kekurangan darah pada remaja putri rupanya menjadi salah satu faktor awal timbulnya stunting atau gizi buruk bagi balita.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tangsel, dr. Allin Hendalin Mahdaniar, mengatakan, dari studi dan pemeriksaan medis menyebutkan bahwa remaja putri yang menderita anemia di masa depan saat menjadi ibu, rentan melahirkan bayi stunting.
“Remaja perempuan tidak boleh anemia, karena pada saat hamil anemia, akan kekurangan gizi, pastinya bayinya juga kekurangan gizi. Kemudian pada saat melahirkan, kalau masih anemia akan terjadi pendarahan dan mengakibatkan kematian pada ibu dan bayi. Jadi panjang ceritanya,” ungkap Allin, Kamis, 25 Januari 2024.
Menurut Allin, Dinkes Kota Tangsel telah lama berupaya menjaga remaja putri untuk terhindar dari anemia.
Pemberian tablet tambah darah kepada remaja putri di sekolah-sekolah terus dilakukan.
Saat ini, pihaknya juga telah membentuk duta remaja yang diberi nama Duta Remaja Antianemia (Doremi).
Kader Doremi ini terdiri dari sekumpulan siswa-siswi SMP dan SMA di Tangsel yang mendapat pengetahuan mengenai gizi dan stunting.
Mereka kemudian akan mendapat tugas menyosialisasikan dan mengedukasikan ke teman-temannya di sekolah dan para remaja lainnya mengenai persoalan stunting dan mengedukasi remaja untuk menjaga pola makan seimbang dan bergizi.
Allin mengatakan, berbagai upaya di atas merupakan aksi pencegahan timbulnya stunting pada masa depan.
“Tentunya bagaimana kita mencegah timbulnya kasus stunting baru, kita berbicara hulunya, yaitu pencegahan pada ibu saat masih remaja, salah satunya kita mencegah remaja putri terkena anemia. Makanya kita berusaha agar remaja di Tangsel ini harus sehat dan tidak boleh anemia,” tandasnya. (*)
Editor: Agus Priwandono











