SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Tahun 2023, 18 orang di Banten meninggal dunia akibat demam berdarah dengue (DBD).
Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Banten mencatat, sepanjang 2023, jumlah kasus DBD di Banten mencapai 4.277 kasus DBD se-Banten.
Kepala Dinkes Provinsi Banten dr Ati Pramudji Hastuti mengatakan, jumlah kasus DBD tahun 2023 menurun dibandingkan 2022. “Tahun 2022 ada 5.260 kasus. Jadi turun,” ujar Ati di gedung Pendopo Gubernur Banten, KP3B, Senin, 29 Januari 2024.
Selain jumlah kasus, Ati mengaku angka kematian akibat DBD tahun 2023 juga menurun dibandingkan 2022. Dinkes mencatat, angka kematian akibat DBD di Banten pada 2022 yakni 33 orang.
Ia memaparkan, pada 2023, kasus DBD tertinggi di Kabupaten Tangerang karena jumlah penduduknya juga lebih banyak yakni 1.486 kasus. Kemudian, Kabupaten Lebak 760 kasus, Kabupaten Pandeglang 531 kasus, Kota Tangerang Selatan 420 kasus, Kota Serang 311 kasus, Kota Tangerang 290 kasus, Kota Cilegon 242 kasus, dan Kabupaten Serang 237 kasus.
“Tapi berdasarkan insiden ratenya (persentase kasus-red) paling tinggi yakni Lebak, kedua Kota Cilegon,” ungkapnya.
Kata dia, demam berdarah bisa ditekan. Namun, ketika 2023 kemarin terjadi perubahan iklim. “Perubahan iklim ini sangat subur buat dbd untuk berkembang biak tentunya, kita mengantisipasi, sudah kita kerahkan para jumantik dari level kelurahan sampai desa. Bener bener kita kerahkan satu rumah satu jumantik, terus kita upayakan sosialisasi dan kemarin ketika musim panas DBD turun, mudah-mudahan ini keberhasilan,” ujar mantan Dirut RSUD Kota Tangerang ini.
Ati mengatakan, DBD lebih mudah berkembang biak itu saat hujan dan kering. “Hujan kering hujan keringm Nah itu jentik berkembang biak. Tapi bagaimana metode satu rumah satu pemantau jentik harus kita upayakan dan kita kembangkan,” terangnya.
Ia menerangkan, kematian terbanyak karena terlambat dibawa ke faskes. Sedangkan yang paling membahayakan itu dengue shock syndrome (DSS).
“Ketika DSS itu langsung dia sadarkan diri karena dikira deman biasa. Karena sama dengan bakteri biasa,” terang Ati.
Reporter : Rostinah
Editor: Aas Arbi











